Gambar

Gambar

Iklan

Final Lomba di Kopi Rajam 2 Kuningan Diwarnai Protes: Aturan Jadi Hiasan, Penilaian Dinilai Tak Konsisten*

Redaksi one
Senin, 18 Mei 2026
Last Updated 2026-05-19T13:17:23Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini

 


REAL NEWS ONE-Kuningan- Gelaran final lomba menyanyi di Kopi Rajam 2 Kuningan, minggu,17 mei .2026, meninggalkan kekecewaan mendalam bagi peserta dan penonton. Bukan karena kalah menang, melainkan karena dugaan pelanggaran aturan lomba dan minimnya standar penyelenggaraan.


Apa yang terjadi ?

Panitia disebut melanggar aturan yang mereka buat sendiri. Flyer lomba secara eksplisit mencantumkan “WAJIB lagu Bahasa Indonesia”. Faktanya, peserta yang membawakan lagu berbahasa Barat justru dinobatkan sebagai juara. Ironisnya, peserta yang patuh aturan dan dinilai memiliki kualitas vokal unggul tersingkir.




Kejadian serupa terjadi pada mekanisme penilaian. Dengan hanya 2 juri yang bertugas, hasil penilaian dinilai subjektif dan tidak konsisten. Peserta dengan jawaban atau penampilan yang identik mendapat skor berbeda. Dalih “kurang jelas terdengar” dan alasan teknis lain dipakai untuk mengurangi nilai, bahkan hingga minus.


Acara berlangsung di Kopi Rajam 2, Kuningan. Keluhan tidak berhenti pada penjurian. Fasilitas penunjang seperti toilet disebut rusak dan tidak terawat, berbanding terbalik dengan citra tempat yang seharusnya lebih megah dari Kopi Rajam Jatiwangi.


Pihak yang disorot adalah panitia penyelenggara dan dewan juri yang berjumlah 2 orang. Peserta yang merasa dirugikan berasal dari kalangan umum yang mengikuti kompetisi secara profesional.


Karena lomba bukan sekadar ajang hiburan, tapi juga ruang pembelajaran tentang sportivitas dan integritas. Ketika aturan dilanggar oleh penyelenggara sendiri, kepercayaan publik runtuh. “Buat apa bikin aturan kalau bisa dilanggar seenaknya? Buat apa panggil juri kalau dasar penilaiannya tidak jelas?” ujar salah satu peserta yang enggan disebut namanya.


Kasus ini mengingatkan publik pada viralnya kontroversi lomba cerdas cermat beberapa waktu lalu, di mana jawaban benar dinyatakan salah tanpa dasar jelas. Polanya sama: aturan hanya jadi hiasan, keadilan hilang.


Kompetisi yang sehat menuntut 3 hal aturan tertulis yang ditegakkan, jumlah juri yang memadai untuk meminimalkan bias, dan transparansi kriteria penilaian. Tanpa itu, kompetisi hanya menjadi panggung selera pribadi. "Kumaha aing".


Selain itu, pelaku usaha di sektor kafe dan event perlu memahami bahwa pengalaman pelanggan mencakup seluruh aspek. Tempat yang megah tanpa kebersihan dan manajemen yang rapi tidak layak menjadi contoh bagi pelaku usaha lain. Sebagai pembanding, Kopi Rajam 3 Jatiwangi dinilai lebih unggul dalam hal kebersihan dan kenyamanan, meski tidak semegah Rajam 2.

Catatan untuk Pelaku Usaha dan Budayawan


Kopi Rajam 2 Kuningan seharusnya menjadi etalase industri kreatif lokal. Namun insiden ini menunjukkan bahwa kemegahan fisik tanpa integritas acara hanya akan merusak reputasi. Bagi pengusaha, ini pelajaran: nama besar dibangun dari konsistensi kecil, mulai dari menegakkan aturan hingga menjaga kebersihan toilet.


Untuk para budayawan dan intelektual, kasus ini adalah pengingat bahwa apresiasi terhadap seni harus dimulai dari proses yang jujur. Sebab ketika kejujuran mati di panggung lomba, yang mati juga kepercayaan generasi muda terhadap ruang kompetisi yang adil.


Pertanyaannya apakah panitia berani mengevaluasi diri dan meminta maaf secara terbuka, atau membiarkan kasus ini menjadi preseden buruk bagi event-event berikutnya di Kuningan?. 

Redaksi RNO

kang oby kresna

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl