Gambar

Gambar

Iklan

"AIRIN" JUARA 1 FLS3N, TAPI KENAPA MASIH HAUS ? IRONI NEGERI YANG SIBUK TEPUK TANGAN, LUPA KASIH AIR

Redaksi one
Rabu, 06 Mei 2026
Last Updated 2026-05-06T12:39:43Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini


Catatan : Perlawanan dari Panggung Gerilya Siswi Majalengka

  

Oleh: kang oby kresna



REAL NEWS ONE - 28 April 2026, Majalengka mencatat sejarah. Kania Kalingga, 17 tahun, siswi SMAN 1 Kasokandel, sabet Juara 1 Monolog FLS3N se-Majalengka.


Namanya "Airin".

Perannya Gadis bisu-tuli yang tiap hari memikul air, bukan keluhan.  


Piala sudah di tangan. Sertifikat sudah di pigura. Tapi Airin yang asli, yang tinggal di lereng Ciremai, masih kehausan sampai hari ini. 


Di sinilah ironinya dimulai, Kita merayakan anak berprestasi, tapi membiarkan "Airin-Airin" di desa mati pelan-pelan karena haus.


Piala Boleh Di Etalase, Tapi Jangan Sampai Keadilan Cuma Jadi Hiasan Ocky Sandi, penulis sekaligus sutradara "Airin", bilang: "Airin bukan hanya soal monolog. Ini sikap." 


Sikap bahwa trofi nggak ada artinya kalau air nggak ngalir.  


Sikap bahwa tepuk tangan pejabat di aula lomba, lebih nyaring dari suara warga Jatiwangi yang minta jetpam.  


Maka sebelum ke Provinsi bulan Agustus, Airin pilih "pemanasan" yang nggak lazim Tour Gerilya.



Juni-Juli ini, Kania akan bawa Airin ke Cirebon, Indramayu, Bandung, Bogor, Jakarta.  Bukan buat cari panggung. Tapi buat ngetok pintu. 


Karena kata Airin "Kalau nunggu rapat, keburu kering. Kalau nunggu birokrasi, keburu tamat sekolah."


 Buat kita semua .Anak 17 tahun, disabilitas dalam perannya, malah lebih waras dari pejabat.

  

Dia tau solusinya bukan di ruang AC. Tapi di HP, di medsos, di pintu rumah warga.


Lalu kita ? Masih sibuk seminar "ketahanan air" sambil minum air kemasan."Gerakan Kecil Bersama" Ketika Yang Bisu Mengajar Kita Cara Berteriak. 


Airin bisu. Airin tuli. Tapi dia ngerti Zaman ini bergerak lewat jempol, bukan lewat surat dinas.  


60 detik monolog. Dilepas ke dunia. Targetnya bukan standing ovation. 

Targetnya Share. Duet. Stitch. Biar satu malam bisa menggerakkan satu kampung. 

 

Kita yang punya suara, punya jabatan, punya anggaran, kok kalah cepat sama anak bisu ? 


Kita yang tiap bulan digaji rakyat, kok kalah aksi sama siswi yang latihannya beratap langit di Desa Jatiwangi ? 


Kata Kania: "Saya jadi juara karena menirunya tak lebih dari 30 menit. Sedangkan dia menjalani hidup berat bertahun-tahun."  


Artinya apa ? Kita ngasih penghargaan ke "akting menderita", tapi membiarkan "menderita beneran" terus terjadi.


Setiap tahun FLS3N digelar. Setiap tahun anak Majalengka juara. Setelah itu ? Foto bareng. Ucapan selamat. Spanduk "Selamat & Sukses". Selesai. 


Tapi coba tanya : 

Sudah berapa jetpam dipasang di Jatiwangi sejak Airin viral di panggung ?

Sudah berapa pipa dialirkan ke Indramayu sejak isu ini naik ?? 


 Sudah berapa "Gerakan Kecil Bersama" yang disupport dinas, bukan cuma ditepuktangani ?


Kalau jawabannya "masih proses", berarti kalian cuma calo piala. Bangga sama prestasi anak, tapi nggak mau bayar harga perjuangannya: yaitu keadilan air.  


Kania , Siswi SMAN 1 Kasokandel, bilang: "Percuma juara kalau Airin masih mengangkut air."  


Ini kalimat paling jujur se-Majalengka tahun ini. Karena pendidikan tanpa keadilan adalah omong kosong. Trofi tanpa air adalah pamer kemiskinan moral.


Airin Nggak Butuh Panggung Istana. Dia Butuh Pipa Sampai Dapur Teater Tjaroeban dan Klub Teater Majalengka sudah meracik artistik dari kesederhanaan. 


Kania sudah belajar bahasa isyarat sampai tangannya keram.Tinggal satu yang belum Kemauan pejabat untuk waras. 


Kata Ocky: "Birokrasi menyuruh kita sabar. Airin menyuruh kita waras. Dan waras artinya bergerak. Sekarang."


Maka untuk Bupati, untuk Dinas PUPR, untuk PDAM Jangan tunggu Airin viral sampai Jakarta baru kalian malu.  


Jangan tunggu Kania nangis di TV Nasional baru kalian kirim tangki.  Buktikan kalau "Majalengka Langkung SAE" itu bukan cuma slogan.  


Karena kalau anak bisu-tuli saja sudah bergerak, Masa kalian yang sehat, yang punya kuasa, masih alasan "anggaran" dan "prosedur" ?  


Ingat pesan Airin:  

"Yang bisu saja bergerak. Masa kita diamb?" Dari lereng Ciremai yang haus, untuk Indonesia yang pura-pura nggak dengar.


Redaksi RNO.

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl