Gambar

Gambar

Iklan

REKTOR DITUNJUK, MAHASISWA MENGGUGAT : UNMA MEMBARA, DEMOKRASI KAMPUS DIKUBUR HIDUP-HIDUP

Redaksi one
Jumat, 24 April 2026
Last Updated 2026-04-24T10:54:56Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini

 


THE REAL NEWS ONE MAJALENGKA , Kampus Universitas Majalengka mendidih hari ini, jumat 24 April 2026. Bukan karena cuaca Majalengka yang terik, tetapi karena amarah ribuan mahasiswa yang tumpah ke jalan. Gedung rektorat dikepung, spanduk raksasa dibentangkan, orasi meledak dari berbagai sudut, sebagai simbol perlawanan. Pemicunya satu: penunjukan rektor secara langsung yang dinilai mencederai marwah akademik.


Di era yang katanya menjunjung tinggi demokrasi, UNMA justru memilih jalan pintas ala kerajaan. Seorang rektor lahir bukan dari rahim musyawarah senat universitas, bukan pula dari suara sivitas akademika yang terdiri dari dosen, guru besar, dan perwakilan mahasiswa, melainkan dari selembar Surat Keputusan penunjukan. Proses yang sunyi, tertutup, dan tiba-tiba itu sontak menyulut api kemarahan.




"Ini penghinaan terhadap akal sehat," teriak para unras dengan pengeras suara yang menggema hingga radius ratusan meter. "Kampus adalah rumah intelektual, bukan warisan keluarga yang bisa diwariskan lewat tunjuk jari. Rektor bukan raja yang bisa ditunjuk turun-temurun. Kami mahasiswa, bukan budak yayasan yang harus terima apa pun keputusan di atas tanpa bertanya."


Mahasiswa menolak lupa hakikat universitas sebagai mimbar tertinggi kebebasan berpikir dan dialektika. Pertanyaan besar yang mereka gugat ke jalanan hari ini sederhana namun fundamental: bagaimana mungkin sebuah institusi mengajarkan demokrasi dan transparansi, jika pucuk pimpinannya sendiri lahir dari proses yang membungkam demokrasi dan anti-transparansi ? Penunjukan langsung ini, menurut massa aksi, telah menampar tiga pilar utama kampus sekaligus. Pertama, menampar Statuta UNMA sendiri yang secara jelas mengamanatkan mekanisme pemilihan. Kedua, menampar marwah para dosen dan guru besar yang hak suaranya dalam senat seolah dianggap angin lalu. Ketiga, menampar wajah seluruh mahasiswa yang diperlakukan sebagai objek yang cukup membayar UKT, bukan sebagai subjek yang berhak menentukan arah rumahnya sendiri.


Aksi yang dimulai sejak pukul 01.00 WIB ini bukan sekadar unjuk rasa biasa. Bagi mereka, ini adalah unjuk harga diri dan unjuk kewarasan. Mahasiswa paham betul konsekuensi logis dari preseden buruk ini. "Hari ini rektor bisa ditunjuk tanpa melibatkan kami. Besok-besok dekan bisa ditunjuk, ketua program studi bisa ditunjuk, bahkan nasib dan nilai mata kuliah kami pun bisa 'ditunjuk' sesuai selera penguasa," ujar para unras ,"Kami ke sini bayar UKT setiap semester, bukan bayar untuk dibungkam dan diwarisi pemimpin."


Para orator secara bergantian menegaskan bahwa arogansi kekuasaan di dunia pendidikan adalah dosa paling mematikan. Sebab ia tidak hanya membunuh satu orang, tetapi membunuh nalar di tempat yang seharusnya menjadi rahim untuk melahirkan nalar. Mahasiswa UNMA menegaskan bahwa gerakan mereka bukanlah tindakan anarkis tanpa dasar. Mereka adalah kaum akademis yang bergerak karena tuntutan akademis: menuntut untuk dilibatkan dalam proses paling fundamental di kampusnya. Tuntutan mereka tegas dan tidak bisa ditawar: cabut SK penunjukan rektor, buka kembali ruang dialog, dan jalankan mekanisme pemilihan rektor secara demokratis, transparan, dan akuntabel sesuai statuta.


Hingga berita ini diturunkan, ribuan mahasiswa masih bertahan di depan gedung rektorat. Mereka berjanji aksi akan terus berlanjut dengan eskalasi yang lebih besar jika tuntutan tidak diindahkan. Rektorat boleh saja memiliki tembok yang tinggi dan pintu rapat yang terkunci rapat, tetapi para mahasiswa yakin suara kebenaran akan selalu lebih tinggi dan sejarah tidak akan pernah bisa dikunci.


Catatan keras dari jalanan hari ini untuk para penguasa kampus di mana pun berada: gelar kehormatan bisa dibeli, jabatan struktural bisa ditunjuk dalam satu malam. Tetapi legitimasi dan kepercayaan dari mahasiswa, tidak akan pernah bisa. Legitimasi itu tidak diberi, melainkan harus direbut dengan rekam jejak, integritas, dan proses yang menghormati semua orang. Hari ini Universitas Majalengka membara bukan karena mahasiswanya bar-bar dan anarkis, tetapi justru karena mereka masih menjadi satu-satunya elemen yang waras di tengah sebuah institusi yang tiba-tiba pura-pura lupa caranya berdemokrasi. Mereka tidak sedang membuat rusuh. Mereka sedang menyelamatkan marwah Universitas Majalengka dari liang kubur sejarah.

Redaksi RNO

Enda kontributor lapangan. 

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl