REAL NEWS ONE - Majalengka, 1/6/2026 - Hari Senin seharusnya jadi hari upacara khidmat Hari Lahir Pancasila. Tapi di RSUD Talaga, Senin itu jadi hari anak-anak ngantri infus.
Semuanya berawal Jumat siang, 29/5/2026. Di Desa Gunungmanik, Kecamatan Talaga, dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi - SPPG Yayasan Jabar Bima Pratama, membagikan menu Makan Bergizi Gratis seperti biasa. Niatnya mulia: cegah stunting, pinterin anak bangsa, wujudkan "Majalengka Langkung Sae".
Malamnya, perut 22 anak mulai memberontak. Mules. Muntah. Pusing. Mayoritas mereka siswa. Yang harusnya malam itu belajar PR, malah belajar nahan sakit di IGD RSUD Talaga. Sebagian dirawat inap untuk observasi. Bayangin ... 1 kelas habis.
Senin pagi, Koordinator SPPG Kabupaten Majalengka, Intan Diena Khoerunisa, akhirnya bicara ke media. Beliau akui: "Betul, mengenai dugaan kejadian menonjol gangguan pencernaan. Penerima manfaat yang terdampak sesuai laporan Kepala SPPG ter-update berjumlah 22 orang."
Program MBG itu kepanjangannya Makan Bergizi Gratis. 3 kata kunci: Makan, Bergizi, Gratis.
Tapi yang terjadi di Talaga Makan iya, Gratis iya, Bergizi... ditunda dulu. Gantinya "Gangguan Pencernaan Gratis".
Sebagai langkah antisipasi, dapur Yayasan Jabar Bima Pratama di Gunungmanik "dihentikan sementara". Nunggu hasil investigasi dan lab dari Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka. Sampel makanan sudah diamankan. Penyebab pasti masih "menunggu".
"Antisipasi" itu harusnya sebelum kejadian, bukan sesudah 22 anak jadi korban.
Standar makanan anak itu harusnya lebih ketat dari dapur hotel bintang 5. Ada HACCP, ada food tester, ada rantai dingin. Karena yang mereka masak bukan nasi untuk tamu. Yang mereka masak masa depan anak Indonesia.
Kalau hotel salah masak, tamu komplain. Kalau dapur MBG salah masak, anak-anak yang ke IGD. Beda level risikonya guru. Beda level tanggung jawabnya.
Hingga berita ini ditulis, kondisi 22 anak dilaporkan membaik. Alhamdulillah. Tapi trauma mereka, trauma orang tuanya... itu nggak ada hasil lab-nya. Nggak bisa diukur pake angka.
Pak Dudi, 42 tahun, warga Talaga, mewakili suara hati kita semua: "Program MBG ini sangat baik untuk membantu kebutuhan gizi anak-anak. Kami berharap penyebab kejadian ini segera diketahui dan ada evaluasi menyeluruh supaya kejadian serupa tidak terulang."
Iya Pak Dudi, programnya sangat baik. Saking baiknya, kita nggak boleh biarkan 1 kecerobohan dapur merusak nama baik 10.000 dapur MBG lainnya se-Indonesia.
Iya Pak Dudi, kami juga berharap evaluasi menyeluruh. Bukan evaluasi "setelah korban". Tapi evaluasi "sebelum dapur nyala".
Kami nggak benci MBG. Justru kami paling depan bela MBG. Karena anak Majalengka, anak Indonesia, berhak dapat gizi terbaik dari negaranya. Gratis itu bonus. Bergizi itu wajib. Tapi Aman... Aman itu hukum. Nggak bisa ditawar.
Jadi untuk pengelola dapur SPPG se-Indonesia, dengar baik-baik:
"Kalau belum sanggup jaga higienitas level rumah sakit, jangan berani ambil kontrak level gizi bangsa. Karena yang kamu cuci bukan cuma piring. Yang kamu cuci nama baik negara."
Untuk 22 anak Talaga cepat sembuh ya nak. Kalian nggak salah. Kalian cuma nurut sama negara yang bilang "makan ini biar pinter". Maaf, negara lalai dulu.
Untuk Dinkes Majalengka: kami tunggu hasil lab-nya. Buka ke publik. Transparan. Orang tua berhak tahu anaknya keracunan apa.
Untuk kita semua Pancasila Sila 2 bilang "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab". Adil itu anak kaya miskin dapat makanan aman yang sama. Beradab itu negara nggak bikin anaknya jadi kelinci percobaan**.spd



