Penulis tidak sekadar bercerita seni budaya untuk di Rajagaluh.
Tapi menyalakan kembali obor memori yang pernah membuat tanah ini bernama: Rajagaluh.
Rajagaluh tidak lahir dari spanduk dan papan nama.Rajagaluh lahir dari keputusan seorang pemimpin besar yang memilih diam di tengah riuh kekuasaan, agar peradaban di perbatasan tidak punah ditelan waktu.
Sejarah mencatat, nama besar Prabu Cakraningrat bukan sekadar gelar.
Beliau adalah guru besar, panglima budaya, penjaga tata nilai. Beliau meninggalkan satu ajaran yang sampai hari ini masih relevan:
“Sebuah wilayah berdiri bukan karena luasnya, tapi karena luhurnya tata kelola dan martabat manusianya.”
Ajaran itu tidak hilang.
Ia dijaga. Diturunkan. Disambung dari generasi ke generasi.
Penulis, untuk pertama kalinya membuka satu lembar catatan tua dari sumber yang akurat.
Catatan ahli waris leluhur yang menulis silsilah Rajagaluh dari masa ke masa:
Embah Kuwu Emban di Rajagaluh Lor.
Embah Rd. Oneng di Rajagaluh Kidul.
Lalu Rd. Tumenggung Dengdek, Rd. Demang Onom, Rd. Jayadinata,
Rd. Jayadiningrat, Rd. Jayadipura, Rd. Singaodinata,
Rd. Wangsaodinata… sampai ke Pa. Uro Wangsanata di Rajagaluh Kidul.
Ini bukan dongeng. Ini jejak.
Jejak bahwa darah Cakraningrat, darah Wangsa Dinata, tidak pernah putus mengalir di tanah Rajagaluh.
Dari tabuh karinding ke tabuh angklung, dari doa ke doa, para sesepuh merawatnya agar kita tidak lupa siapa diri kita.
Hari ini, jejak itu disambung kembali oleh sang putra asli Rajagaluh Timur Efran Galuh Setiawan, Anggota DPRD Kabupaten Majalengka yang visioner dalam merawat dan melestarikan budaya sunda .
Beliau tidak hanya bicara tentang tentang masa depan. Beliau menarik kita mundur satu langkah ke belakang,
agar kita tidak salah melangkah seratus langkah ke depan. Sependapat dengan sesepuh budaya, Raden H. Yayat N dari keturunan Talaga Manggung,
beliau mengingatkan kita
“Bangsa yang besar tidak malu bertanya Kami dari mana ?”
Dan jawaban itu tidak akan ditemukan di gedung-gedung megah Jakarta atau gedung Bandung. Jawabannya ada di sini.
Di tanah Rajagaluh. Di darah leluhur yang malam ini mungkin sedang meneteskan air mata haru, menanti para putra-putri Rajagaluh membuka cakrawala di langit jingga.
Maka dengarkan baik-baik, narasi ini bukan hanya cerita. Ini adalah "pengingat keras: Melawan Lupa.
Rajagaluh akan berdiri tegak bukan karena restu pusat, tapi karena anak cucunya berani mengingat siapa dirinya, dan berani melanjutkan apa yang pernah dimulai leluhurnya.
Ketika teater tarian dimulai nanti, yang bergerak bukan hanya penari.
Yang bergerak adalah sejarah yang bangkit dari tidur panjangnya.putra sang Galuh.
Ketika gendang ditabuh, yang bergetar bukan hanya panggung.
Yang bergetar adalah martabat sebuah wilayah yang ingin berdiri dengan kepalanya sendiri.
Saat ini Rajagaluh sedang bercerita tentang dirinya sendiri. Dan kita semua adalah saksi…
bahwa sejarah itu belum selesai. Sejarah itu sedang ditulis kembali…
oleh kita, hari ini.
Oleh sang putra Timur Rajagaluh,
Efran Galuh Setiawan.
Redaksi RNO
Oleh kang oby kresna.


