Gambar

Gambar

Iklan

TANPA KDM, DANGHYANG RUNDAYAN TETAP MENYALA. Panggung Rakyat di GL-20 Membuktikan: Budaya Hidup Karena Warga, Bukan Karena Pejabat

Redaksi one
Rabu, 13 Mei 2026
Last Updated 2026-05-13T12:08:20Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini

 


REAL NEWS ONE - Talaga, Majalengka- Rabu, 13 Mei 2026. Di kaki Gununglaya Desa Argasari, prosesi Milangkala Danghyang Rundayan Talaga selesai dengan khidmat. Gamelan berhenti, doa ditutup, tapi nyala semangatnya belum padam.  


Pelaku adat budaya dari seantero Tatar Sunda, bahkan tamu dari luar Jabar, tetap datang dengan wajah berseri. Mereka datang bukan karena undangan pejabat. Mereka datang karena panggilan leluhur. Karena bagi masyarakat adat, Danghyang Rundayan bukan sekadar acara. Itu identitas. Itu darah. Itu napas.


Di tengah kemeriahan itu, ada satu nama yang absen: "KDM ".


Masyarakat Argasari dan sekitarnya sudah menunggu sejak kemarin. Harapannya sederhana, melihat pemimpin Jabar yang mereka idolakan hadir langsung, menyapa, mendengar. Tapi yang sampai hanya pesan lewat jalur Lembur Pakuan dan Gedung Pakuan. Tanpa konfirmasi jelas. Tanpa alasan yang bisa menenangkan hati.




Sekretaris Umum Panpel Milangkala Danghyang Rundayan Talaga sekaligus konseptor acara, Badra Erawan H, menyatakan dengan tenang namun tegas  

“Kami sudah tempuh semua jalur. Surat proposal sudah dikirim ke Lembur Pakuan maupun Gedung Pakuan. Kalau pada akhirnya KDM tidak datang, ya tidak apa-apa. Tidak berarti acara harus gagal dilaksanakan.”


Kalimat itu bukan kemarahan. Itu harga diri.  


Badra juga pernah menyampaikan hal yang sama di depan Bupati Majalengka beberapa hari sebelum acara. “Panggung KDM jelas beda dengan panggung DRT. Panggung kami lahir dari keinginan masyarakat adat budaya Danghyang Rundayan Talaga, bukan dari program.”  


Artinya jelas. Kalau budaya harus menunggu pejabat, maka budaya akan mati saat pejabat sibuk. Tapi kalau budaya hidup di hati warga, maka tanpa pejabat pun ia tetap menyala. Dan hari ini, Talaga membuktikannya.


Ya, kekecewaan itu ada. Terutama di hati warga yang sudah membayangkan KDM hadir di GL-20. Tapi kekecewaan itu tidak membuat mereka pulang. Mereka tetap duduk, tetap menari, tetap mendoakan. Karena bagi warga Talaga, hadirnya pemimpin memang menyenangkan. Tapi tidak hadirnya pemimpin tidak akan mematikan semangat.


Suksesnya Milangkala ini juga bukan karena SK atau anggaran besar. Ia sukses karena para tokoh Talaga yang diam-diam menggerakkan roda. Sesepuh adat, seniman, kepala desa, camat, para guru, dan warga biasa yang rela patungan demi panggung tetap berdiri. Dukungan mereka lebih besar dari sekadar kebijakan. Karena kebijakan bisa datang dan pergi. Tapi rasa memiliki, tidak.


Kepada KDM, Talaga tidak menuntut. Talaga hanya mengingatkan. Rakyat yang merindukanmu hari ini adalah rakyat yang sama yang dulu mengantarkanmu jadi pemimpin. Hadir 15 menit pun cukup. Bukan untuk panggung, tapi untuk bukti bahwa pemimpin tidak lupa pada akar.


Kepada panitia pelaksana, selamat. Acara aman, lancar, meriah. Itu hasil kerja keras siang malam yang layak diapresiasi. Tapi jadikan ini pelajaran. Sukses teknis tanpa empati sosial akan meninggalkan rasa hambar. Tahun depan, buat Talaga lebih akbar. Tapi jangan lupa buat warga lebih dihargai.


Milangkala Danghyang Rundayan Talaga 2026 membuktikan satu hal. Panggung bisa sepi pejabat, tapi tidak akan pernah sepi rakyat. Dan selama rakyat masih berdiri, selama itu pula Danghyang Rundayan akan hidup. Bukan karena diizinkan. Tapi karena diwariskan.**

Penulis : kang oby kresna

Jurnalis dan Seniman

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl