REAL NEWS ONE - Majalengka-Sebuah ironi level dewa tergambar di jalan menuju Garut. Di atas bus mewah bertuliskan “Workshop Tata Kelola Keuangan APBD”, rombongan DPRD Majalengka ceria.Ketawa, ngopi, swafoto. “Meningkatkan Kapasitas Demi Rakyat Belajar Efisiensi.
Tapi 5 meter dari bus itu, di pinggir jalan yang sama, seorang rakyat terseok-seok.Dorong gerobak batu segede gajah. Tulisannya “EFISIENSI” Bajunya bolong, keringatnya banjir, mukanya penuh tanda tanya.Tugasnya juga mulia Mempraktekkan Efisiensi.
AC dingin, jok empuk, bensin ditanggung APBD. Materi workshop Cara Menghemat Uang Rakyat” Biaya workshop Rahasia. Tempat Biar nyaman, ambil di Garut aja”.
BLT dipangkas hemat.
Jalan rusak dibiarkan hemat.
Honor guru ngaji ditunda hemat.
Slogan Pemda“Hemat, Sederhana, Tidak Pemborosan”
Kontrasnya nyakitin mata. Nusuk logika. Nginjek hati nurani. Jadi takarannya gini Pejabat belajar teori hemat pakai duit, rakyat ujian praktek hemat pakai nyawa.
Pertanyaan rakyat sederhana, tapi gak bisa dijawab baliho Efisiensi ini sebenarnya untuk siapa, bapak bapak ?
Kalau untuk rakyat, kenapa rakyat yang makin terjepit? Kalau untuk negara, kenapa belajarnya harus sambil wisata.
Majalengka punya Pendopo. Punya aula. Punya Zoom. Punya Youtube. Yang gak punya cuma satu Malu.
UU No. 17/2003 Pasal 3 ayat (1) jelas:_Keuangan negara dikelola secara efisien, ekonomis, efektif Efisien hasil maksimal, biaya minimal. Naik bus rombongan ke Garut untuk bahas “hemat biaya maksimal, hasi l? Masih tanda tanya.
Ini bukan efisiensi. Ini definisi baru: E-FI-SI-EN-SI “Euy, Fisik Silaturahmi, Entong di Kantor”
Kami gak anti workshop. Ilmu itu wajib. Tapi adab lebih wajib.
Di saat rakyat disuruh “mengencangkan ikat pinggang” sampai sesak napas, pejabat jangan “melonggarkan ikat pinggang” di meja prasmanan hotel.
Makanya rakyat Majalengka nitip
Transparansi.Publish RAB workshop. Berapa sewa bus? Berapa hotel? Berapa uang saku ? Ini duit pajak, bukan duit arisan.
Pulang bawa apa? Adakah Rp 1 M yang bisa dihemat APBD 2026 karena hasil workshop? Kalau cuma bawa dodol, mending shopee.
Stop gaya “WAWADUKAN” Wacana Hemat, Wujudnya Duka. Kalau mau dihormati, kasih contoh. Ikut dorong gerobak “Efisiensi” itu dulu 1 km. Baru kami percaya.
Rungkad jadi figuran miskin di setiap spanduk “Efisiensi” disuruh mengerti, sementara kalian gak pernah mau mengerti.
Kursi itu milik rakyat. Gaji itu dari pajak rakyat. Bus itu dibeli pake keringat rakyat.
Kalau fungsinya cuma buat jalan-jalan berkedok workshop, namanya bukan Wakil Rakyat. Namanya Wakil Rombongan.
Majalengka gak butuh DPRD yang pinter teori hemat di Garut.
Majalengka butuh DPRD yang berani praktek hemat di Majalengka.
Rakyat yang Bayar Pajak, Bayar Cicilan, Bayar Kekecewaan.*
Oleh : Redaksi RNO


