Laporan Investigasi Lapangan dari Jalan "Jebakan Maut" Jatiwangi
Oleh: kang oby kresna
REAL NEWS ONE - majalengka ,Lihat foto ini baik-baik, Pak Kadis. Lihat foto ini baik-baik, Pak Pemborong.
Ini bukan lukisan abstrak. Ini potret "jalan obyek vital" menuju Lanud Sukani. Jalan yang tiap hari dilintasi prajurit, buruh, anak sekolah.
Aspalnya mengelupas seperti luka lama yang tak diobati. Lubangnya menganga seperti mulut yang siap menelan korban.
Dan kemarin, saya cek langsung ke lapangan. Kesimpulan saya Ini Bukan Jalan. Ini Kuburan Ban Motor Yang Tertunda.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, anggaran infrastruktur jalan di Majalengka tahun ini tembus 143 Miliar lebih.
Angka yang cukup untuk membuat Jatiwangi jadi mulus seperti pipi bayi.
Tapi realitanya?
Jalan Jatiwangi arah Lanud Sukani, seolah jadi anak tiri. "Nanti aja," katanya. "Masih bisa dilewati," dalihnya.
Pertanyaan untuk Dinas PUPR dan Para Pemborong. 143 M itu untuk jalan yang mana? Kalau jalan vital menuju pangkalan militer saja dibiarkan bolong, lalu prioritasnya siapa ?
Kenapa gerak kalian lebih lambat dari siput, padahal uang rakyat sudah cair ? Apa alat beratnya mogok, atau niatnya yang mogok ?
Harus nunggu berapa korban lagi baru kalian turun ? Harus viral dulu baru aspal dihampar ?
Siang bolong begini saja sudah berbahaya. Apalagi malam hari ditambah hujan. Lubang tertutup genangan air. Pengendara motor seperti main tebak-tebakan dengan maut.
Dan ini bukan asumsi. Ini sudah kejadian. Di jalan Lewikidang-Gandasari, sudah ada korban jatuh dari motor sampai patah tulang. Dilarikan ke rumah sakit.
Photo dok. Korban jatuh di jalan gandasari. Warga gandu
Sampai hari ini, korban bernama bapak enju, warga Blok Gandu Kecamatan Dawuan, masih terbaring di rumah.
Beliau tidak mengadu. Bukan karena tidak sakit. Tapi karena beliau orang kecil. Miskin. Tidak punya relasi. Tidak tau harus minta tolong ke mana. Air matanya kering sebelum sampai ke meja dinas.
Pak Kadis, boss Pemborong, Setiap lubang yang kalian biarkan, adalah hutang nyawa.
Setiap hari yang kalian tunda, adalah bunga penderitaan rakyat yang terus berbunga. Kami paham, prosedur itu perlu. Lelang itu perlu. Tapi nyawa rakyat lebih perlu.
Kalau akses ke pangkalan militer saja rusak, bagaimana kita mau bicara pertahanan negara ? Malu, Pak !
Rakyat sudah muak makan "proses". Rakyat butuh "progres". Butuh aspal, bukan alibi.
Kalau sampai Bapak Bupati harus sidak dan marah-marah, itu artinya kalian gagal. Gagal kerja, gagal malu.
Kepada Bapak Bupati Eman Suherman, Kami tahu Bapak selalu stay untuk rakyat. Mohon kiranya Bapak tegur keras dinas terkait dan pemborong yang lambat atas nama masyarakat Jatiwangi Ligung.
Anggaran 143 M itu uang rakyat Majalengka. Jangan sampai rakyatnya yang jadi korban karena jalan tak kunjung mulus.
Kami tidak minta jalan seperti di Sentul. Kami cuma minta jalan yang tidak membunuh.
Apakah itu terlalu mahal untuk 143 Miliar ?? Sebelum ada Bapak enju lainnya di Blok Gandu, di Jatisura, di Mekarsari, Tolong, Bapak. Turunkan alat berat sekarang.
Karena setiap detik yang kalian tunda, adalah detik antara hidup dan mati bagi pengendara motor.
Redaksi RNO.



