Gambar

Gambar

Iklan

DARI RUANG SEMINAR KE RUANG REBUSAN: KETIKA ALMAMATER IKUT ANTRI CATERING, SIAPA JAGA MIMBAR ILMU ?

Redaksi one
Jumat, 08 Mei 2026
Last Updated 2026-05-08T16:29:46Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini




REAL NEWS ONE - Makassar, Ada pemandangan baru di pantai Losari.  Dulu, asap yang keluar dari kampus adalah asap diskusi.  Sekarang, asap yang keluar dari Unhas adalah asap dapur SPPG Tamalanrea 14. 

Menteri Brian Yuliarto meresmikan. Yayasan Metavisi Akademik Nusantara mengoperasikan.  


2.500 porsi per hari. Rp2.000 margin per porsi. Rp5 juta sehari. Rp150 juta sebulan. 20 pekerja lokal tersenyum. 


Penulis mengapresiasi setinggi-tingginya untuk Unhas.  


Di saat kampus lain masih rapat, Unhas sudah masak. Di saat yang lain diskusi, Unhas sudah distribusi.  Ini namanya Kampus tidak elitis. Kampus turun ke piring rakyat. 


Ini bukan dosa. Ini ikhtiar. Dua dekade PTNBH bikin kampus dipaksa mandiri. Subsidi dipangkas, SPP tidak boleh naik seenaknya.  


UI jawab dengan UI Corpora. UGM jawab dengan Gama Multi. ITB jawab dengan LAPI. 


Sekarang MBG datang. Unhas jawab dengan wajan. Jadi, kalau ada yang bilang “kampus jadi korporasi”, penulis jawab : “Kampus dari dulu sudah disuruh korporasi”.  


Ketika Lab Disulap Jadi Dapur, Apakah Skripsi Kalah Dengan Sop Catering?

  

Tridarma itu : Pendidikan, Penelitian, Pengabdian. MBG itu pengabdian. Luar biasa.  


Tapi ketika 1 Yayasan kampus urus 2.500 piring tiap hari, berapa dosen, berapa guru besar, berapa jamnya yang kesedot dari ruang kelas ke ruang rebus? 


Margin Rp150 juta sebulan itu jujur menggiurkan. Lebih pasti daripada hibah penelitian yang cairnya setahun sekali.  


Pertanyaannya penulis: Kalau rektor disuruh pilih, nambah 1 dapur atau nambah 1 lab, mana yang ditandatangani duluan?  


Ini bukan tuduh Unhas. Ini alarm untuk semua PTNBH.  


Jangan sampai 10 tahun lagi, rektor lebih bangga lapor “omzet catering naik 300%” daripada “jurnal Scopus naik 30%”.  

 

20 pekerja lokal di SPPG Tamalanrea 14 itu hebat. Penulis salut. Tapi di luar pagar Unhas, ada 200 ibu-ibu katering Tamalanrea yang 20 tahun jualan nasi bungkus. 


Ketika Yayasan Kampus turun dengan brand “Unhas”, modal kuat, tanah sendiri, listrik disubsidi, siapa yang bisa lawan ?  


Apakah ini “pengabdian” atau “persaingan”?  


Apakah MBG akan lahirkan 20.000 koperasi desa, atau malah lahirkan 20.000 Yayasan Kampus yang jadi raja catering?  Kampus punya otak, punya lab gizi, punya mahasiswa KKN. Itu senjata.


Tugas kampus bukan ambil alih wajan. Tugas kampus adalah ajari 200 ibu-ibu itu cara hitung HPP, cara urus PIRT, cara biar wajannya lolos audit BGN.  


Itu baru Tridarma. Bukan Trilaba.Transparansi, Bu, Pak. Ini kuncinya.  Rp150 juta sebulan itu dari APBN. Uang pajak tukang ojek, petani, guru honorer.  


penulis tidak suudzon. Tapi Pena RNO titip pesan untuk Majelis Wali Amanat seluruh PTNBH:  


Wajibkan audit publik tiap bulan. Upload di web kampus. “Hari ini masak 2.500 porsi. Margin 5 juta. 2 juta untuk beasiswa, 2 juta untuk riset pangan, 1 juta operasional.” 


Pisahkan Yayasan Bisnis dan Yayasan Akademik. Jangan sampai uang dapur buat nutupin gaji dosen. Nanti dosennya rasa rendang.

  

Batasi ekspansi. 1 kampus 1 dapur cukup. Jangan sampai Unhas buka cabang di Jatiwangi. Kasihan koperasi desa.  

 

Berani duluan. Inovatif. Tidak nunggu juknis. Libatkan pekerja lokal. Ekonomi berputar di Tamalanrea. Buktikan kampus bisa. Tidak cuma teori. 


Tapi Titip Pesan Juga Setinggi Menara Pinisi

Jaga marwah, Prof. Jangan sampai 20 tahun lagi, anak cucu kita nanya “Dulu Unhas terkenal karena apa ya ? Oh, cateringnya.” 


Universitas Hasanuddin nama besar.  Besar karena lahirkan BJ Habibie, bukan karena lahirkan 2.500 kotak nasi.  


Dapur boleh ngebul. Tapi mimbar ilmu jangan sampai redup. Omzet boleh naik. Tapi akreditasi jangan sampai turun. Margin boleh Rp2.000. Tapi idealisme jangan didiskon.

 

Jurnalis RNO tidak anti kampus bisnis.JURNALIS anti kampus lupa diri.  


Solusinya bukan “stop dapur”. Solusinya “bagi peran”. Kampus  riset menu, SOP hygiene, latih UMKM, audit gizi. Koperasi Desa UMKM Masak, distribusi, serap tenaga kerja. 


Biar profesor tetap di lab. Biar emak-emak tetap di wajan.  Biar Rp150 juta itu jadi berkah, bukan jadi fitnah.  


Karena Indonesia Emas 2045 butuh 2 hal: 

Anak cerdas karena gizi. 

 Bangsa cerdas karena riset.  

Jangan sampai kita kenyang, tapi gagasan kita lapar.  


Kami percaya Unhas bisa jaga 2-2nya.  

Buktikan, Profesor.

Redaksi RNO

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl