Gambar

Gambar

Iklan

Harga Pertamax Naik, Pedagang POM Mini hingga Pedagang Keliling Terpukul. Kenaikan Pertamax Tekan Usaha Kecil, Pedagang Eceran dan Keliling Terancam Kehilangan Pelanggan

Redaksi one
Sabtu, 13 Juni 2026
Last Updated 2026-06-14T02:28:12Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini

 


REAL NEWS ONE - Majalengka, Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax mulai dirasakan dampaknya oleh sejumlah pelaku usaha kecil di Kabupaten Majalengka. Penjualan pedagang eceran BBM melalui POM Mini mengalami penurunan, sementara pedagang makanan keliling juga mulai menyesuaikan harga jual akibat meningkatnya biaya operasional.


Ucup (48), salah seorang pemilik POM Mini di wilayah Cigasong, mengaku penjualan Pertamax miliknya turun cukup signifikan setelah adanya kenaikan harga.

Sebelumnya, dalam sehari ia bisa menghabiskan sekitar 67 liter atau dua jeriken Pertamax. Namun setelah harga naik, jumlah tersebut kini baru habis dalam waktu dua hari.


"Biasanya satu hari bisa habis dua jeriken, sekarang dua hari baru habis. Pembeli banyak yang mengurangi pembelian," ungkap Ucup, Minggu (14/6/2026).


Menurutnya, sebagian pengguna kendaraan bermotor kini lebih memilih membeli BBM langsung ke SPBU karena selisih harga yang cukup jauh. Banyak konsumen beralih menggunakan Pertalite lantaran perbedaan harga dinilai mencapai sekitar Rp.6.300 per liter.


"Katanya lebih hemat beli langsung di pom, apalagi selisihnya lumayan. Jadi mereka memilih Pertalite,"ujarnya.


Kondisi serupa juga dikeluhkan para pengemudi ojek online (ojol) yang setiap hari bergantung pada kendaraan bermotor untuk mencari penghasilan. Kenaikan harga BBM membuat biaya operasional mereka meningkat, sementara pendapatan belum tentu bertambah.


Selain sektor transportasi, dampak kenaikan Pertamax juga dirasakan pedagang makanan keliling. Wirja (50), pedagang baso ikan asal Baribis, mengaku harus menaikkan harga jual dagangannya karena biaya produksi dan perjalanan semakin tinggi.


Sebelumnya, kata Wirja, harga bahan baku seperti aci, tepung terigu, dan daging ayam sudah mengalami kenaikan. Ditambah naiknya harga BBM, membuat dirinya harus melakukan penyesuaian harga agar usaha tetap berjalan.


"Kalau tidak dinaikkan, keuntungan semakin kecil. Tapi setelah harga naik, pembeli juga berkurang karena banyak yang mengeluh pendapatan mereka ikut turun," ungkapnya.


Ia berharap kondisi harga kebutuhan dan biaya operasional bisa kembali stabil, sehingga pelaku usaha kecil seperti dirinya tetap mampu bertahan di tengah tekanan kenaikan biaya.


Sementara itu, pedagang sayur keliling yang menggunakan sepeda motor juga mulai merasakan dampak kenaikan harga BBM. Salah seorang pedagang sayur keliling, Asep (45), mengatakan biaya bensin yang harus dikeluarkan setiap hari kini bertambah, sementara harga jual sayuran sulit dinaikkan karena khawatir pelanggan beralih.


"Kalau bensin naik, modal jalan ikut naik. Tapi kalau harga sayur dinaikkan, pembeli juga banyak yang keberatan. Jadi sekarang harus pintar-pintar mengatur pengeluaran," ujar Asep.


Ia mengaku biasanya berkeliling dari pagi hingga siang menggunakan motor untuk menjangkau pelanggan di beberapa wilayah. Kenaikan biaya operasional membuat keuntungan yang diperoleh semakin berkurang.


Kenaikan harga BBM pun kini menjadi perhatian bagi pelaku usaha mikro yang sangat bergantung pada kendaraan sebagai penunjang aktivitas ekonomi sehari-hari.**spd

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl