REAL NEWS ONE-
Rapat paripurna membahas Raperda strategis. Judulnya penting. Dampaknya menyentuh hidup orang banyak. Tapi di ruangan itu, barisan kursi justru lebih banyak bicara daripada pemiliknya.
Dua puluh Mei 2026, ruang sidang DPRD Majalengka menampilkan pemandangan yang kini sudah terlalu familiar mikrofon menyala, kamera menyala, tapi kursi kosong.
Banyak yang menyebutnya “ketidakhadiran”.
Saya menyebutnya “ketidakhadiran yang jujur”.
Karena lebih jujur mengaku tidak ada di tempat, daripada hadir secara fisik tapi absen secara nalar dan tanggung jawab.
Lebih baik kursi kosong, daripada diisi orang yang hanya datang untuk menghangatkan nama di absensi.
Raperda strategis bukan acara arisan. Ia adalah kontrak moral antara rakyat yang membayar pajak dengan orang yang dipilih untuk menjaga uang dan masa depan itu.
Ketika kontrak itu ditinggalkan demi alasan yang bahkan tak berani disebut di depan publik, maka yang runtuh bukan cuma quorum.
Yang runtuh adalah alasan mengapa kita masih menyebut lembaga ini “wakil rakyat”.
Rakyat Majalengka tidak butuh penjelasan basa-basi soal “ada urusan mendadak”.
Mereka butuh satu halnbukti bahwa satu hari di ruang sidang itu lebih berharga daripada satu hari di luar sana untuk kepentingan pribadi.
Kursi bisa dibeli dengan suara.
Tapi kehormatan untuk duduk di atasnya, tidak bisa.
Itu harus dibayar setiap hari dengan hadir, membaca, bertanya, dan menolak ketika kebijakan mulai melenceng.
Jadi pertanyaannya bukan lagi “kenapa kursinya kosong?”
Pertanyaannya adalah “Kalau semua kursi terisi, apakah rakyat akan merasa lebih aman ?
Selama jawabannya belum jelas, maka kosongnya kursi hari ini adalah cermin.
Cermin dari kepercayaan yang sudah lama dibiarkan kosong oleh kita semua.
Oleh : K_O K .


