“Yang pintar makin dimanjakan, yang tertinggal makin ditinggal.”
REAL NEWS ONE - Pemprov Jabar bangga menyiapkan 41 sekolah unggulan untuk ‘anak-anak berprestasi’.
Kedengarannya mulia. Tapi coba jujur prestasi itu tumbuh di mana ?
Prestasi tumbuh di sekolah yang gurunya cukup, labnya hidup, listriknya nggak mati pas ujian, dan jambannya nggak bocor.
Bukan di sekolah yang sejak awal sudah dikasih fasilitas terbaik, guru terbaik, lalu diklaim sebagai ‘keberhasilan program’.
Yang kita lihat bukan transformasi pendidikan.
Yang kita lihat adalah redistribusi panggung ambil 41 sekolah yang sudah bagus, kasih nama baru, kasih pita, lalu foto bareng.
Sementara ribuan SMA/SMK lain di Jabar masih berjuang dengan kelas yang kepenuhan, guru honorer yang digaji Rp 300 ribu, dan siswa yang berangkat sekolah sambil mikir “besok makan apa”.
Sekolah Maung tidak menciptakan keunggulan.
Ia hanya memindahkan sorotan lampu ke panggung yang sudah terang, lalu berpura-pura menciptakan cahaya itu sendiri.
Negara yang adil tidak bertanya “siapa yang sudah menang?”
Negara yang adil bertanya “siapa yang belum diberi kesempatan untuk bertanding?”
Kalau mau disebut Sekolah Manusia Unggul, mulailah dari sekolah yang manusianya paling terlupakan.
Oleh kang oby kresna


