Pernyataan Sikap Terkait Indikasi Ketidaktransparanan Cabor Pencak Silat O2SN SMANDAKA
Real news one -Majalengka Para pesilat, orang tua, dan seluruh masyarakat Majalengka yang mencintai olahraga yang jujur,
Hari ini kita tidak sedang membicarakan soal kalah dan menang.
Kita sedang membicarakan kehormatan sebuah gelanggang.
Pencak silat adalah seni, budaya, dan olahraga yang sejak awal diajarkan untuk menjunjung tinggi kejujuran, sportivitas, dan adab.
Tapi apa jadinya jika gelanggang yang seharusnya mendidik karakter, justru berubah menjadi panggung sandiwara?
Dengarlah keluhan ini, yang disampaikan langsung oleh para orang tua peserta:
“Di Majalengka ada pelatih yang sudah ikut penataran pelatih di tingkat provinsi. Bahkan wasit dan juri yang sudah punya lisensi resmi juga ada.
Tapi setelah pulang penataran, kenapa tidak ada forum untuk mengumpulkan semua perguruan?
Kenapa hasil penataran tidak disebarkan, agar yang belum tahu jadi tahu, mana yang benar, mana yang harus dinilai, dan bagaimana caranya?
Inti masalahnya adalah kurangnya keterbukaan dari pihak IPSI.
Wajar saja jika banyak yang mulai bersuara dan mempertanyakan kinerja pengurus IPSI.
Contohnya, di Kuningan tiba-tiba ada tanda tangan untuk penerimaan uang pangsi, tapi uangnya tidak ada. Diganti dengan kaos.
Itu pun kaosnya dibagikan setelah pertandingan selesai.
Tidakkah kasihan melihat para atlet ? Melihat daerah lain setiap hari gonta-ganti pakaian di gelanggang,
sementara anak kami hanya memakai satu jaket dari datang sampai selesai.
Jaketnya sudah kucel, sudah bau keringat, tapi tetap dipakai.
Kami semua jadi bertanya-tanya, daerah lain membawa perlengkapan seperti itu, apakah itu tidak salah ?”
Atas dasar itulah, kami menerima laporan dan indikasi kuat adanya ketidaksesuaian dalam penilaian Cabor Pencak Silat O2SN yang dilaksanakan di Gedung SMKS Sanda Majalengka.
Indikasi tersebut meliputi:
Proses penilaian yang dinilai berat sebelah dan tidak konsisten.
Minimnya transparansi hasil penilaian kepada pelatih dan kontingen. Sikap tidak kooperatif dari struktur pimpinan IPSI yang seharusnya menjadi penjamin netralitas.
Jika hal ini benar terjadi, maka ini bukan sekadar “kekeliruan teknis”. Ini adalah pengkhianatan terhadap anak-anak kita.
Anak-anak yang sudah berlatih siang malam, mengorbankan waktu, tenaga, dan harga diri, hanya untuk mengharumkan nama sekolah dan daerahnya.
Kami tidak sedang mencari keributan. Kami hanya menuntut satu hal yang paling mendasar dalam olahraga: KETERBUKAAN.
Buka hasil penilaian. Buka mekanisme penilaian. Buka ruang klarifikasi yang adil.
Karena kalau juri bisa berlaku tidak adil dan pengurus memilih diam, maka yang mati bukan hanya pertandingan hari ini. Yang mati adalah kepercayaan anak-anak pada sistem. Yang mati adalah semangat “Satria” dalam Pencak Silat itu sendiri.
Kepada seluruh pihak yang terlibat, dengarlah ini.:
Gelanggang ini bukan milik pribadi. Gelanggang ini milik anak-anak Majalengka yang haus akan keadilan.
Jika kalian merasa bersih, buktikan dengan transparansi. Jika kalian merasa benar, buktikan dengan data.
Kami tidak akan diam. Karena diam terhadap kecurangan adalah bentuk lain dari ikut curang. Pencak Silat Majalengka harus bersih. Harus jujur. Harus transparan.
Untuk anak-anak kita. Untuk masa depan olahraga kita.
RNO


