Gambar

Gambar

Iklan

Ketika Kopi Rajam 3 Nyanyi Dan Nyapu : Rising Voice Angkat Budaya, geber 52 Angkat Sampah di Jatiwangi Squer. Bupati Tersenyum, Disparbud Termenung

Redaksi one
Sabtu, 09 Mei 2026
Last Updated 2026-05-09T15:49:21Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini

 Dari Panggung Kopi Rajam 3 ke Got Majalengka : Anak Jalanan Pegang Mic, Ibu RT Pegang Sapu. Ini Baru Namanya Majalengka Langkung SAE.  



REAL NEWS ONE Jatiwangi,-Ada dua suara yang naik dari tanah Rajam Jatiwangi Squer. Suara pertama Dari panggung  Suara kedua Dari sapu. 


Yang satu nyanyi. Yang satu nyapu.Dua-duanya kerja. Dua-duanya cinta Majalengka.  Jurnalis RNO mengungkap tirai mahakarya Ini bukan tentang parlemen jalanan. Ini tentang rakyat jalanan yang jalan. 


RISING VOICE. KOPI RAJAM 3 Lomba Menyanyi se-Ciayumajakuning. Peserta Anak jalanan. Ibu RT. Anak SMA. Pedagang pasar. Peternak. Komunitas sanggar. Monggo geura daftar !

Juri visioner: Nia Cobra. Miss TAti. Darto Je. Lokasi: Kopi Rajam 3, Jatiwangi Square. Daftar: 23 April – 7 Mei 2026. Cuma 50 ribu. 


Di panggung itu, anak jalanan yang biasa dipalak preman hari ini pegang mic.  Ibu RT yang biasa ngitung beras hari ini naik panggung.  


Peternak dan Tukang cebor yang biasa bau keringat hari ini wangi harapan. Mereka nggak minta panggung di pendopo. 


Mereka bikin panggung sendiri. Di Kopi Rajam 3. Tapi Tunggu. Cerita Belum Selesai.Di luar panggung, ada suara lain. Suara Bupati Eman Suherman. Lewat geber 52 tentang Pengelolaan Sampah.

 

Pesan Bapak jelas: “Jaga. Rawat. Kebersihan. Majalengka Langkung SAE dimulai dari sapu kita.”  Dan Inilah Indahnya Majalengka Hari Ini Di Kopi Rajam Panggung bersih. Tanpa APBD. Tanpa studi banding. Cuma 50 ribu.  


Peserta nyanyi. Sampah dipungut. Gelas kopi nggak berserakan.  Karena Rising Voice ngajarin: Seni itu indah. Lingkungan bersih itu ibadah. 


Bupati Sudah Kasih Aturan. Rakyat Sudah Kasih Contoh.  Tinggal satu pertanyaan. : Pejabat Sudah Kasih Apa ?


Jurnalis Rno Mau Tanya Ke Semua Yang Gajinya Dari Pajak Rakyat.  Disparbud Majalengka, Kamana Atuh ?  


Swasta anak negeri bisa bikin panggung budaya dan budaya bersih. Warung kopi bisa angkat bakat dan angkat sampah.  Biji kopi Rajam bisa jadi inspirasi satu wilayah satu wilayah tanpa plastik.  


Lalu kantor Bapak/Ibu ngapain ?  Nunggu proposal ? Nunggu juknis ? Nunggu seremonial ? 


Atau nunggu viral baru nempel spanduk “Didukung oleh” sambil buang puntung sembarangan ? Rising Voice ini bukti : Budaya nggak mati. Peduli lingkungan nggak mati. 

 

Yang mati itu kemauan pejabat. 50 ribu per peserta. Dampaknya : 1 Majalengka nyanyi. 1 Jabar denger. 1 got jadi bersih.  Malu, Pak. Malu sama kopi. Malu sama sapu.  Pak. Bupati dan Wabup, Kami Dengar geber 52. Bapak nyuruh jaga kebersihan. Kami laksanakan. 


Lihat Kopi Rajam 3: Lomba jalan, sampah aman.  Lihat peserta Nyanyi iya, buang sampah sembarangan tidak.  Sekarang giliran Bapak.  


Datang Pak. Ke Rising Voice. Nggak usah sambutan 30 menit. Cukup tepuk tangan buat anak jalanan. Cukup pungut satu plastik bareng pedagang.  


Itu udah jadi berita se-Jabar. Itu udah jadi teladan se-Indonesia seperti kemarin bapak bapak datang dalam acara GEBER 52. 


Kalau Bapak nggak datang, tenang. Rakyat nggak rugi.  Yang rugi Bapak. Kehilangan momen jadi pemimpin yang dirindukan: Yang mau nyanyi bareng, mau nyapu bareng.  


Kawan jurnalis di Jatiwangi..Berita nggak harus dari rilis Humas.Berita lahir dari keringat rakyat dan kebijakan Bapak Bupati.


Rising Voice ini berita. Geber 52 ini berita. Anak jalanan jadi rising star sambil jaga kebersihan, itu berita mahakarya.


Kalau kalian masih nunggu amplop baru nulis, kalian bukan wartawan.  Kalian juru ketik. Padahal pena kalian bisa jadi sapu.  


Apresiasi Setinggi Gunung Rajam Sebersih Kali Cijurey  Rising Voice Coffee Co & BSM Blue Sky Yoi Kalian bukan jualan kopi. Kalian jualan mimpi dan jualan teladan. Panggung bersih, hati bersih. Gedung kesenian nganggur harus belajar.  


Mang B. Erawan & Semua Peserta: Kalian bukti Geber 52 hidup. Suara merdu, got tidak merana. Dari jalanan ke panggung, dari kandang ke mic, dari sampah ke berkah. Kalian Rising Star sesungguhnya.  


Juri Nia Cobra, Miss TAti, Darto Je: Turun gunung. Nggak nunggu bayaran miliaran. Nilai suara, nilai sikap. Kalian juri rakyat, juri beradab.    


Untuk Bupati Eman Suherman & Kadis Parbud:  Datang Pak. Duduk bareng pedagang. Nyanyi satu lagu. Pungut satu sampah.  


Foto itu lebih mahal dari 1000 baliho “Majalengka Langkung SAE”. Untuk Disparbud  Tahun depan, APBD buat 10 Rising Voice di 10 kecamatan. 


Syaratnya satu: Zero waste. Panggung boleh meriah, sampah jangan tersisah. Bisa ? Atau masih toel -toelan nunggu juknis ?  


untuk kita semua  Daftar. Nonton. Dukung. Buang sampah pada tempatnya. Biar Disparbud tau: Tanpa mereka pun, budaya & kebersihan tetap hidup.  


Biar pejabat tau: Panggung rakyat nggak butuh restu, butuh hadir. Got rakyat nggak butuh seminar, butuh sapu.  


Mic satu: Untuk nyanyi. Mic dua: Untuk ngingetin buang sampah.


Kopi Rajam: Bold. Strong. Authentic.  Rising Voice: Dari bumi Rajam, untuk jiwa yang tak pernah padam dan got yang tak pernah mampet.


Kalau pejabat duduk manis, biar kopi yang bicara. Kalau dinas diam, biar rakyat yang bernyanyi dan menyapu.  


Majalengka nggak kekurangan bakat. Nggak kekurangan aturan. Majalengka cuma kelebihan pejabat yang tuli dan tangan yang kaku. 


Mulai hari ini, kita buktikan  Suara kita. Semangat kita. Kopi kita. Panggung kita. Sampah kita, tanggung jawab kita. 


Karena geber 52 dan Rising Voice adalah Majalengka Langkung SAE. Bukan di kertas. Tapi di panggung. Di jalan. Di hati.  

Oleh : oby kresna

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl