Oleh: kang oby kresna
REAL NEWS ONE - Di Majalengka, ada satu puncak yang diam-diam menyimpan kalender.
Bukan kalender kertas, tapi kalender langit yang ditulis leluhur di atas batu. Namanya Kalang Bentang, sebuah situs di puncak Gunung Haur.
Dari kejauhan, gunung ini memang aneh. Puncaknya lancip seperti piramida mini, berdiri tegak di perbatasan Babakan Jawa dan Cicurug.
Naik setengah jam dari Blok Dukuh Hurip, kamu akan menemukan susunan batu seperti meja, lantai batu, dan batu berdiri yang ditata rapi. Bukan alami. Ini jejak tangan manusia zaman dulu.
Menurut Ketua Grumala Nana Rohmana, tempat ini diduga kuat jadi titik kumpul masyarakat Megalitikum.
Tapi yang bikin bulu kuduk berdiri bukan cuma batu-batunya.
Di puncak itu ada makam kuno yang disebut warga sebagai Makam Mbah Kalang Bentang atau *lKi Yudakerti, Kuwu Sindangkasih abad ke-16.
Zaman dulu, “kuwu” sama artinya dengan raja. Dan hanya orang terhormat yang dimakamkan di puncak gunung dekat dengan langit, dekat dengan Sang Pencipta.
Lalu kenapa disebut Kalang Bentang ?
Karena di sinilah leluhur Sunda menentukan musim tanam padi huma.
Mereka tidak pakai kalender. Mereka pakai elmu bintang.
Saat tengah malam, posisi bintang timur diamati. Dari situ ketahuan kapan waktunya menanam.
Ilmu ini disebut Palintangan astronomi tradisional Sunda yang presisi tanpa teleskop.
Bayangkan. Ribuan tahun lalu, orang-orang Majalengka sudah membaca waktu lewat langit, dari atas batu, di tempat yang sama kamu berdiri sekarang.
Kota Majalengka terbentang di bawah, tapi mereka lebih sibuk melihat ke atas.
Situs ini bukan cuma tumpukan batu.
Ini ruang rapat peradaban, ruang ibadah, sekaligus observatorium kuno.
Sayangnya, masih sedikit yang tahu.
Padahal kalau diteliti lebih dalam, Kalang Bentang bisa jadi bukti bahwa ilmu pengetahuan di tanah Sunda sudah maju jauh sebelum istilah “sains” masuk ke kamus kita.
Gunung Haur mungkin sepi sekarang.
Tapi di puncaknya, waktu masih berputar seperti dulu pelan, sunyi, dan penuh makna.
Kalang Bentang. Tempat langit dulu diajak bicara.
Redaksi RNO



