THE REAL NEWS ONE
Menjelang peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada 2 Mei, dunia pendidikan di Kabupaten Majalengka kembali dihadapkan pada kabar memprihatinkan. Tiga ruang kelas di SDN 3 Mirat, Kecamatan Leuwimunding, ambruk pada Jumat pagi (01/5/2026).
Peristiwa ini menambah daftar kasus serupa yang sebelumnya terjadi di SDN Andir, Kecamatan Jatiwangi, pada Januari lalu. Dugaan sementara, ambruknya bangunan disebabkan konstruksi atap yang menggunakan baja ringan tidak sesuai spesifikasi, sehingga tidak mampu menahan beban atap genting.
“Bayangkan saja, baja ringan yang tidak sesuai spesifikasi dipadukan dengan atap genting. Kalau diperhitungkan, jelas tidak akan kuat menahan beban,” ujar sumber di lokasi kejadian.
Beruntung tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Namun, kegiatan belajar mengajar (KBM) dipastikan terganggu akibat kerusakan bangunan.
Bupati Majalengka, Eman Suherman, langsung meninjau lokasi kejadian pada Jumat siang. Dalam keterangannya, Bupati menegaskan langkah cepat penanganan agar proses pendidikan tetap berjalan.
Untuk sementara, siswa akan direlokasi dan diarahkan mengikuti kegiatan belajar di ruang perpustakaan dan musala sekolah agar KBM tidak terhenti total.
Selain itu, Bupati juga menginstruksikan dinas terkait, yakni Dinas PUTR dan BKD, untuk segera melakukan perbaikan menggunakan dana Belanja Tidak Terduga (BTT). Langkah ini diharapkan agar bangunan sekolah dapat kembali digunakan pada tahun ajaran baru mendatang.
Lebih lanjut, Bupati menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap kualitas konstruksi bangunan sekolah. Ia meminta pengawasan diperketat serta penggunaan material yang memenuhi standar dan bergaransi agar kejadian serupa tidak terulang.
“Ini menjadi cerminan bagi kita semua. Pengawas dan pihak sekolah harus lebih jeli memantau kualitas bangunan. Jangan sampai nyawa anak-anak kita terancam karena kelalaian teknis,” tegas Bupati di lokasi kejadian.
Pemerintah Kabupaten Majalengka berkomitmen untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi infrastruktur pendidikan, terutama bangunan sekolah yang dinilai berpotensi mengalami kerusakan.
Kejadian ini menjadi ironi di tengah momentum Hardiknas, yang seharusnya menjadi refleksi kemajuan pendidikan. Perhatian terhadap kualitas sarana dan prasarana pendidikan dinilai menjadi hal mendasar demi menjamin keselamatan dan kenyamanan peserta didik.*RNo spd.


