Gambar

Gambar

Iklan

Harkitnas Majalengka: Kedaulatan Digital Bukan Sekadar Kalimat Penutup Sambutan

Redaksi one
Selasa, 19 Mei 2026
Last Updated 2026-05-20T05:19:35Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini

 


REAL NEWS ONE - majalengka,Upacara sudah khidmat. Bendera sudah berkibar. Sambutan Menteri sudah dibacakan dengan suara lantang.  

Tema “Jaga Tunas Bangsa demi Kedaulatan Negara” sudah gagah terpasang di spanduk.  


Tapi sejarah tidak bertanya seberapa merdu pidato kita hari ini.  

Sejarah bertanya: *setelah upacara bubar, apa yang berubah untuk anak Majalengka?*


Kita bicara kedaulatan digital dan PP Tunas. Itu langkah yang benar.  

Anak di bawah 16 tahun memang berhak tumbuh tanpa racun algoritma dan predator digital.  

Namun kedaulatan digital tidak lahir dari larangan saja.  


Kedaulatan digital lahir ketika anak di Cikijing bisa mengakses ilmu yang sama dengan anak di Jakarta.  

Ketika guru di desa tidak lagi mengajar dengan laptop yang usianya lebih tua dari muridnya.  

Ketika data warga Majalengka dijaga lebih ketat daripada data kampanye.


Jangan biarkan “Perlindungan Tunas Bangsa” berhenti di atas kertas dan di akhir berita.  

Tunas bangsa tidak tumbuh dari sambutan.  

Tunas bangsa tumbuh dari WiFi yang menyala saat pelajaran daring, dari telur dan susu yang benar-benar sampai ke piring, dari guru yang hadir tepat waktu, dari koperasi desa yang uangnya kembali ke rakyat, bukan hilang di jalan.


Astacita, Makan Bergizi Gratis, Sekolah Rakyat, Cek Kesehatan Gratis, Koperasi Merah Putih semuanya adalah visi besar.  

Tapi visi besar tanpa eksekusi di lapangan hanya akan jadi monumen kata-kata.


Hari Kebangkitan Nasional bukan hari untuk menepuk punggung sendiri.  

Harkitnas adalah hari untuk ditagih oleh rakyat.


Satu pertanyaan sederhana yang akan menguji semua program kita: 


Apakah kebijakan hari ini membuat anak Majalengka tidur lebih nyenyak dan berani bermimpi lebih tinggi dari orang tuanya?


Kalau jawabannya belum, maka upacara hari ini belum selesai.  

Upacara baru selesai ketika “langkung SAE” bukan lagi slogan di spanduk, tapi rasa yang dialami warga:  

SAE di sinyal yang lancar, SAE di puskesmas yang obatnya tidak kosong, SAE di desa yang koperasinya hidup, SAE di anak yang bermimpi tanpa takut ditinggal negaranya.


Bangsa yang bangkit tidak diukur dari megahnya lapangan upacara,  

tapi dari tenangnya dapur, hidupnya kelas, dan beraninya anak-anak memandang masa depan.


Selama itu belum terwujud, kebangkitan kita masih berupa janji.  

Dan janji yang tidak ditepati, akan ditagih oleh waktu.**

Oleh : kang oby kresna

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl