Oleh :kang oby kresna
REAL NEWS ONE -Majalengka. Disperdagin Majalengka lagi sibuk gelar operasi pasar beras murah. 10 ton di 4 pasar, harga Rp11.600/kg, lebih murah Rp900 dari HET. Dijadwalkan tiap Senin dan Kamis sampai 25 Mei 2026. Katanya untuk jaga stabilitas pangan dan bantu daya beli.
Bagus. Tapi guru mau nampar pelan biar kita semua sadar murah itu bukan karena kita kaya, tapi karena banyak warga nggak sanggup beli di harga pasar.
Operasi Pasar Itu Obat, Bukan Prestasi
Kalau pasar normalnya sehat, nggak perlu ada operasi pasar.
Faktanya, operasi pasar harus digelar rutin tiap Senin-Kamis. Artinya, harga di pasar umum dan minimarket sudah kelewat batas untuk dompet buruh, petani, ibu rumah tangga.
Jadi jangan buru-buru tepuk tangan.
Beras Rp11.600 itu bukan “kebaikan pemerintah”. Itu kewajiban negara buat memastikan warga nggak kelaparan karena harga pangan gila-gilaan.
Yang patut diacungi jempol itu kalau harga di pasar umum sendiri turun ke Rp11.600 tanpa perlu disubsidi.
Selama itu belum terjadi, operasi pasar cuma plester buat luka yang nggak kunjung diobati.
Jangan Sampai Pasar Murah Jadi Pasar Citra
Guru juga paham lah!!!, Disperdagin punya tugas buka pasar dan jaga distribusi. Tapi hati-hati, jangan sampai operasi pasar cuma jadi panggung foto dan press release.
Yang rakyat butuh bukan 10 ton beras buat 4 titik.
Yang rakyat butuh itu kepastian kenapa harga beras di pasar umum bisa tetap tinggi ?
Rantai distribusi bocor di mana ? Tengkulak main di mana? Bulog masuk ke pedagang kecil atau cuma ke ritel besar ?
Kalau itu nggak dibenahi, Senin-Kamis ada operasi pasar.
Jumat-Minggu harga balik lagi.
Rakyat capek jadi penonton drama subsidi yang itu-itu aja.
Minyak Goreng Murah Menyusul ? Bagus. Tapi Selesaikan Dulu PR Besarnya
Rencana tambah minyak goreng murah itu bagus. Tapi jangan sampai jadi pola
Ada inflasi buka operasi pasar foto" selesai ulang lagi bulan depan.
Pemerintah daerah punya dua tugas
Pertama jadi pemadam kebakaran saat harga naik.
Kedua, jadi arsitek yang bikin kebakaran itu nggak terjadi lagi.
Arsiteknya itu ada di data. Di pengawasan rantai pasok. Di keberanian menindak kalau ada yang main harga.
Bukan cuma di jumlah ton beras yang dibagikan.
Pesan Buat Disperdagin dan Pemda Majalengka
Rakyat Majalengka nggak minta beras gratis selamanya.
Mereka minta harga pasar yang wajar, biar nggak perlu ngantri di operasi pasar tiap Senin-Kamis.
Kalau 10 ton beras itu bisa bikin dapur warga tenang seminggu, itu patut diapresiasi.
Tapi kalau 10 ton itu cuma bikin pejabat tenang 1 hari karena sudah “ada kegiatan”, maka kita sedang salah arah.
buat kita semua warga Majalengka
Jangan bangga kebangetan dapat beras murah.
Bangga kalau suatu hari kita nggak butuh operasi pasar lagi, karena harga di pasar umum sudah manusiawi.
Sampai hari itu datang, operasi pasar itu pengingat
Kita belum merdeka dari harga. Kita masih diatur oleh harga.
Jadi kalau ada yang bilang “Pemda hebat, ada beras murah”, jawab balik:
“Heh, hebat kalau harganya murah di semua pasar, bukan cuma pas ada operasi.”
Redaksi RNO


