Gambar

Gambar

Iklan

PKBM RIYADUL ABROR: MANDIRI LEWAT KETERAMPILAN, TERHAMBAT INFRASTRUKTUR

Redaksi one
Minggu, 26 April 2026
Last Updated 2026-04-26T09:45:21Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini

 

Refleksi Kritis Dunia Pendidikan Nonformal Saat Warga Belajar Berdaya, Ruang Belajarnya Tak Berdaya  


Oleh: Kang Obi | Real News One - Majalengka 

Bantarujeg, 26 April 2026 



REAL NEWS ONE - MAJALENGKA– PKBM Riyadul ABROR, Kecamatan Bantarujeg, mencatat capaian signifikan dalam pemberdayaan warga belajar sepanjang Semester I Tahun 2026. Namun, di balik capaian tersebut, terselip persoalan klasik yang belum terselesaikan keterbatasan infrastruktur Ruang Kelas Baru (RKB).  


Berdasarkan data yang dihimpun, program pemberdayaan keterampilan berbasis kewirausahaan telah menjangkau ratusan warga belajar. Pada Semester I 2026, sebanyak 600 bibit ayam sentul produktif telah didistribusikan sebagai modal usaha mandiri. Puncaknya,nanti pada 4 Mei 2026, bertepatan dengan momen kelulusan Paket C, disalurkan kepada 91 lulusan, dengan alokasi 2 ekor ayam sentul per orang. Sebanyak 21 tutor turut menerima 3 ekor untuk dikembangkan sebagai percontohan.  


Capaian ini menunjukkan bahwa pendidikan kesetaraan di PKBM tidak berhenti pada ijazah, melainkan berlanjut pada kemandirian ekonomi.  


Ketua Yayasan Riyadul ABROR dalam rapat kelulusan memberikan penegasan kepada jajaran pendidik.  

“Kepada seluruh guru, saya tegaskan komitmen kehadiran dalam mengajar adalah mutlak. Jangan banyak alasan. Apresiasi, edukasi, dan motivasi kepada warga belajar harus konsisten dan semakin di depan,” tegasnya.  


Pihak yayasan juga menyampaikan penghargaan kepada pemerintah. “Kami sampaikan terima kasih kepada Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat atas alokasi program pemberdayaan keterampilan. Ini menjadi stimulus nyata bagi kemandirian lulusan,” ujarnya.  


Dikotomi Pendidikan Produktif di Lapangan, Defisit di Ruang Belajar  


Namun, keberhasilan di hilir tersebut belum sepenuhnya ditopang oleh kesiapan di hulu. Muncul pertanyaan kritis yang dialamatkan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan Masyarakat (Dikmas) Kabupaten Majalengka: Di mana keberpihakan anggaran untuk Ruang Kelas Baru (RKB)?


Logika pembangunan mensyaratkan keseimbangan. Program keterampilan adalah “sayap” yang membuat warga belajar terbang mandiri. Namun, infrastruktur RKB adalah “badan” yang menjadi tumpuan proses itu. Sayap tanpa badan tidak akan mengudara. Keterampilan tanpa ruang belajar yang layak dikhawatirkan hanya menghasilkan lulusan yang tangguh secara mental, tetapi rapuh secara fasilitas.  


Fakta di lapangan, sebagian besar kegiatan belajar mengajar (KBM) PKBM masih dilaksanakan terus,??, Kondisi ini menciptakan dikotomi yang memilukan dalam potret pendidikan kita warga belajar didorong untuk produktif, namun dibiarkan belajar dalam kondisi yang tidak produktif. 


Musrenbang 2027: Momentum Koreksi Kebijakan Anggaran. 


Ketua PKBM Riyadul ABROR telah menyuarakan kebutuhan paling mendasar.“Yang menjadi prioritas saat ini adalah infrastruktur bangunan RKB.”


Ini bukan keluhan, melainkan data kebutuhan. Ketika 91 lulusan telah dibekali keterampilan dan modal usaha, menjadi ironi jika adik-adik kelas mereka kelak masih harus belajar dengan kondisi berdesakan, kepanasan, dan duduk lesehan karena ketiadaan ruang kelas.  


Oleh karena itu, jika instruksi “jangan banyak alasan” telah berlaku bagi guru, maka publik berhak menyampaikan hal serupa kepada Disdik Dikmas: “Jangan banyak alasan, harus bangun.”


Dalih “masih dalam proses” harus memiliki batas waktu yang terukur. Warga belajar telah berproses dan dinyatakan lulus. Jangan sampai pembangunan RKB baru “lulus” dalam perencanaan pada tahun 2045.  


Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) 2027 harus menjadi titik balik. Forum tersebut wajib memastikan Rencana Anggaran Biaya (RAB) untuk pembangunan RKB bagi seluruh PKBM di Kabupaten Majalengka, khususnya di Kecamatan Bantarujeg, ditetapkan sebagai program prioritas, bukan sekadar wacana.  


Pendidikan adalah energi bangsa. Dan energi sebesar apa pun membutuhkan wadah untuk disalurkan secara optimal. Wadah bagi pendidikan nonformal itu bernama RKB. Bukan ruang rapat, bukan lembar janji.  


Tiga Amanat untuk Pemangku Kepentingan  


1. Kepada 21 Tutor PKBM Riyadul ABROR Apresiasi atas dedikasi mendampingi warga belajar hingga mandiri. Mohon dedikasi yang sama untuk terus mengawal dan menyuarakan urgensi 3 huruf: R-K-B, di setiap forum resmi hingga terealisasi.  


2. Kepada 91 Lulusan Paket C: Modal usaha yang kalian terima adalah simbol kemandirian. Perjuangkan agar kemandirian tersebut diwariskan secara utuh. Sempurna rasanya jika adik-adik kalian kelak menimba ilmu di ruang kelas yang representatif dan bermartabat.  


3. Kepada Disdik Dikmas Kabupaten Majalengka Terima kasih atas dukungan program pemberdayaan. Kini, publik menanti keberpihakan pada aspek fundamental infrastruktur. Jangan sampai narasi sejarah mencatat bahwa pada era ini, akselerasi keterampilan tidak diimbangi dengan akselerasi penyediaan ruang belajar.  


Sebab, esensi pendidikan yang berkeadilan adalah ketika warga belajar tidak hanya mampu “berkokok” di dunia usaha, tetapi juga “berkokok” cerdas dari dalam Ruang Kelas Baru yang layak dan pantas.  

Redaksi RNO




iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl