MAJALENGKA, THE REAL NEWS ONE – Dunia saat ini sedang mengalami pergeseran besar. Fragmentasi ekonomi global—yang ditandai dengan melemahnya integrasi pasar internasional dan bangkitnya proteksionisme—telah menciptakan lanskap yang penuh ketidakpastian. Namun, di tengah badai global ini, Kabupaten Majalengka muncul sebagai titik terang dengan performa ekonomi yang tumbuh impresif di angka 6,86% pada tahun 2025.
Pertanyaannya, bagaimana kita memastikan pertumbuhan angka di atas kertas ini benar-benar mewujud menjadi kesejahteraan yang merata?
Pertumbuhan Tinggi vs. Pembangunan Inklusif
Dalam gelaran Colloquium Economic di Universitas Majalengka (30/06/2026), Anggota DPRD Majalengka, Muh Fajar Shidik CH, S.Pd.I., M.A.P., menegaskan bahwa Majalengka sedang dalam fase transformasi. Pertumbuhan 6,86%—yang melampaui rata-rata Jawa Barat sebesar 5,32%—adalah momentum emas.
Senada dengan hal tersebut, Dr. Haris Fauzi, S.E., M.M., Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Majalengka, menekankan pentingnya Pembangunan Inklusif. Menurutnya, angka pertumbuhan hanyalah statistik kosong jika tidak dibarengi dengan penurunan kemiskinan dan ketimpangan sosial. "Pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan kehilangan maknanya jika tidak inklusif," ujar Dr. Haris.
Majalengka saat ini tengah membuktikan korelasi tersebut: pertumbuhan ekonomi meningkat, sementara tingkat pengangguran terbuka (TPT) mulai melandai ke angka 3,62% dan tingkat kedalaman kemiskinan menurun.
Jalur Dampak Global dan Strategi Mitigasi
Fragmentasi global tidak terjadi di ruang hampa. Ia merambat ke daerah melalui kenaikan biaya logistik, fluktuasi harga pangan yang menekan daya beli (inflasi 3,27% per Mei 2026), hingga perubahan kebutuhan tenaga kerja industri.
Untuk merespons ini, Dr. Haris Fauzi menekankan perlunya kolaborasi multipihak antara pemerintah, kampus, sektor swasta, dan investor. Investasi yang masuk ke Majalengka harus diarahkan pada sektor yang bernilai tambah tinggi dan mampu menyerap tenaga kerja lokal secara masif. Pemanfaatan infrastruktur strategis seperti BIJB Kertajati sebagai pusat logistik menjadi kunci untuk menciptakan efek domino bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Transformasi SDM: Pendidikan Berintegritas
Di sisi lain, kualitas SDM menjadi penentu apakah Majalengka akan menjadi "pemain utama" atau sekadar menjadi pasar tenaga kerja murah. Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Majalengka kini mengadaptasi kurikulum agar relevan dengan tuntutan industri.
Namun, kompetensi teknis saja tidak cukup. Dr. Haris mengingatkan bahwa ekonomi tanpa integritas moral hanyalah pintu masuk bagi praktik korupsi yang merugikan daerah. Oleh karena itu, lulusan Universitas Majalengka dibekali dengan sertifikasi profesi melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dan nilai-nilai spiritualitas agar siap menghadapi tantangan dunia kerja yang kompetitif dan etis.
Kewirausahaan sebagai Solusi Strategis
Salah satu poin krusial dari Colloquium Economic adalah perlunya pergeseran pola pikir generasi muda. Dengan jumlah angkatan kerja yang mencapai lebih dari 777 ribu jiwa, mengandalkan lapangan kerja formal saja tidak akan cukup.
"Generasi muda harus didorong menjadi pencipta lapangan kerja, bukan sekadar pencari kerja," jelas Dr. Haris. Kewirausahaan adalah solusi strategis. Dengan dukungan akses modal, pendampingan UMKM, dan literasi digital, mahasiswa diharapkan mampu menggerakkan ekonomi lokal dari akarnya.
Menuju Majalengka yang "Naik Kelas"
Untuk memenangkan persaingan di tengah fragmentasi global, Majalengka memerlukan empat pilar utama:
1. Industri yang Kuat: Memaksimalkan sektor pengolahan sebagai mesin nilai tambah.
2. SDM yang Adaptif: Pendidikan yang link and match dengan kebutuhan industri serta memiliki integritas tinggi.
3. Daya Beli yang Terjaga: Stabilitas harga pangan sebagai bantalan ekonomi bagi rumah tangga rentan.
4. Ketahanan Lokal: Sinergi multipihak dalam memanfaatkan infrastruktur untuk penguatan ekosistem ekonomi.
Majalengka telah menunjukkan bahwa daerah tidak harus menjadi penonton. Dengan mengintegrasikan kebijakan berbasis data, penguatan kapasitas SDM, dan semangat kewirausahaan yang inklusif, Majalengka tidak hanya akan bertahan di tengah ketidakpastian dunia, tetapi justru akan naik kelas menjadi pusat pertumbuhan yang tangguh.
Artikel ini disusun berdasarkan sinergi data BPS Kabupaten Majalengka (2025-2026) dan perspektif akademis dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Majalengka.**
(Agung)


