Oleh: kang oby kresna
Untuk dibaca di ruang redaksi, bukan di grup bagi-bagi THR.
Real news one - Kepada para penjaga pilar keempat demokrasi, Hari ini 3 Mei. Dunia mengucapkan "Selamat Hari Pers".
Tapi izinkan saya tidak ikut euforia.Karena bagi saya, pers yang merdeka bukan yang bebas menulis apa saja. Tapi yang berani tidak menulis ketika nurani bilang "Ini salah".
Wahai Pemegang Pena, Kalau Karyamu Hanya Berisi "Selamat Dan Sukses", "Hadir Dalam Acara", "Turut Mengundang", Maka Kamu Bukan Wartawan. Kamu Papan Bunga Digital.
Kalau Beritamu Lebih Takut Kehilangan Iklan Daripada Kehilangan Kebenaran, Maka Kamu Bukan Pers. Kamu Pedagang Berita.
Kalau Kamu Lebih Cepat Datang Ke Konferensi Pers Pejabat Daripada Ke Rumah Warga Yang Jalannya Bolong, Maka Kamu Bukan Jurnalis. Kamu Humas Berkedok Media. Hari Pers Bukan Panggung Seremonial. Ini Medan Perang.
Perang melawan lupa. Lupa bahwa di Jatisura ada ibu-ibu "meni paur" antar anak sekolah karena jalan rusak.
Perang melawan bungkam. Bungkam ketika demokrasi kampus di UNMA diteriaki "Selamat Datang Diktator" oleh mahasiswanya sendiri.
Perang melawan kenyang. Kenyang oleh amplop, sampai lupa rasa lapar rakyat yang beritanya tak pernah naik.
Aceng Syamsul Hadie sudah bertanya di berbagai media : "Apakah pers Indonesia benar-benar merdeka, atau justru dalam bayang-bayang hegemoni Dewan Pers ?"
Saya tambah "Apakah wartawan Indonesia benar-benar bekerja, atau justru dalam bayang-bayang hegemoni amplop ?"
Setahun berapa berita investigasi yang kita lahirkan ? Atau setahun berapa "rilis jadi berita" yang kita copy-paste ?
Keberpihakan Kita Ke Siapa ?Ke korban atau ke pelaku ? Ke rakyat yang jalannya bolong atau ke dinas yang janji "akan ditindaklanjuti"?
Untuk menyambung lidah rakyat yang bungkam, atau untuk menyambung kontrak iklan yang hampir putus?
Pers Yang Hebat Bukan Yang Kantornya Megah.
Tapi yang beritanya bisa bikin kantor dinas mendadak rapat.Pers Yang Merdeka Bukan Yang Bebas Dikritik
Tapi yang berani mengkritik meski besok ditegur Dewan Pers. maka di hari pers sedunia ini, saya tidak ucapkan "selamat".
saya ucapkan: "bangun". Bangun dari tidur panjang bernama "Advetorial".
Bangun dari mimpi indah bernama "Kerjasama Media". Bangun dan lihat: Di luar sana ada jalan rusak, ada demokrasi kampus yang luka, ada buruh yang nunggu Job Fair tanpa "orang dalam".
Tugasmu bukan hanya publish. Tugasmu adalah Mengubah. Kalau berita tak mengubah apa-apa, maka kita cuma tukang ketik, bukan wartawan.
Kepada wartawan sejati yang masih lapar kebenaran.Terima kasih. Penamu adalah harapan terakhir republik ini.
Teruslah menulis sampai tangan pejabat gemetar, bukan sampai rekeningmu tebal. Kepada wartawan yang sudah nyaman jadi corong .Selamat Hari Pers. Semoga cepat sadar sebelum sejarah mencatatmu sebagai "Pengkhianat Pena"**.
Salam dari meja redaksi yang sepi amplop tapi ramai idealisme,
Wartawan Tanpa Nama, Tapi Punya Nama Baik.
Redaksi RN0


