Gambar

Gambar

Iklan

Selamat Dan Sukses" Robek Oleh Teriakan "Selamat Datang Diktator" Potret Luka Demokrasi Di Kampus Universitas Majalengka UNMA

Redaksi one
Selasa, 05 Mei 2026
Last Updated 2026-05-05T13:01:07Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini


Laporan jurnalis Real News One dari Halaman UNMA

 

Oleh: kang oby kresna



MAJALENGKA Siang tadi, langit UNMA mendung. Bukan karena mau hujan. Tapi karena ratusan mahasiswa berpakaian hitam melangkahkan kaki dengan satu napas: KECEWA.


Di atas mereka, terpasang megah banner "Selamat dan Sukses". Di depan mereka, terbentang jadwal "Pemilihan Rektor & Dekan Universitas Majalengka".  


Tapi di tangan mereka, kain putih bertuliskan darah : "Selamat Datang Diktator". Di aspal yang mereka injak, digelar spanduk "UNMA Dalam Tragedi Kepemimpinan".


Ironi itu nyata, dan tadi siang ia dipertontonkan di jantung kampus. Jurnalis Real News One ngintip dan tidak diam "Kesempatan nih," gumamnya.


BEM UNMA Gelar Aksi Tuntut Penundaan Dan Transparansi Pemilihan Rektor. Menjelang pelaksanaan pemilihan Rektor UNMA yang dijadwalkan 8 Mei 2026, Badan Eksekutif Mahasiswa UNMA menggelar aksi unjuk rasa Selasa siang. Aksi ini adalah bentuk penyampaian aspirasi mahasiswa terkait mekanisme dan tahapan proses pemilihan rektor yang dinilai belum sepenuhnya transparan.




Aksi berlangsung di area kampus dengan pengawalan ketat aparat kepolisian. Sejumlah personel diterjunkan untuk memastikan keamanan dan ketertiban. Hingga aksi berakhir, situasi terpantau aman, tertib, dan kondusif tanpa insiden berarti. Bahkan beberapa anggota polisi yang bertugas, terdiam menyimak orasi. Wajah mereka tak bisa menyembunyikan rasa kagum: "Ini mahasiswa, bukan perusuh."


Dalam orasinya, perwakilan mahasiswa menyampaikan tuntutan tegas kepada yayasan dan pimpinan universitas. Mereka menilai perlu ada keterbukaan informasi terkait proses penjaringan, penetapan calon, hingga mekanisme pemilihan rektor secara keseluruhan.


Koordinator aksi menegaskan

"Kami meminta agar proses pemilihan rektor ditunda terlebih dahulu sampai ada kejelasan mengenai mekanisme yang berjalan. Transparansi adalah hal utama agar tidak menimbulkan polemik di kemudian hari.


Mahasiswa juga menekankan pentingnya akuntabilitas penyelenggara dalam menjalankan setiap tahapan pemilihan, guna menjaga kredibilitas institusi dan kepercayaan publik.


Aksi berjalan tertib. Para peserta menyampaikan aspirasi lewat orasi bergantian sambil membentangkan spanduk tuntutan. Aparat mengawal dengan pendekatan persuasif.


Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak yayasan maupun pimpinan UNMA terkait tuntutan mahasiswa. BEM UNMA berharap aspirasi segera ditindaklanjuti dengan membuka ruang dialog antara mahasiswa, yayasan, dan pihak kampus.


Bukan Demo Kaleng-kaleng, Ini jeritan Akademik Ini bukan aksi bayaran. Ini bukan kerumunan tanpa nalar.  

Mereka yang turun adalah mahasiswa yang setiap hari duduk di kelas yang sama, bayar UKT yang sama, dan punya satu pertanyaan yang sama: "Kemana arah kapal UNMA ini berlayar ?"

 

Di dinding kampus, terpampang gagah "Selamat Atas Capaian Akreditasi Baik Sekali" Untuk Prodi Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana.  

Prestasi di atas kertas. Tapi prestasi di hati mahasiswa? Ketika proses pemilihan rektor diselimuti kabut, ketika suara sivitas akademika terasa seperti angin lalu, akreditasi itu untuk siapa?  




Yayasan UNMA, dengarlah. Akreditasi "Baik Sekali" tidak akan berarti jika kepercayaan sivitas "Buruk Sekali". Gedung boleh megah, tapi jika roh demokrasinya sekarat, itu bukan kampus. Itu menara mercusuar di Laut Selatan.Terlihat gagah dari jauh, tapi kosong tak memberi arah.  

  

Banner jadwal tertanggal 23 April - 14 Mei 2026. Tahapan seleksi, validasi, pemilihan. Rapi sekali.  Tapi mahasiswa bertanya dengan spanduk "Demokrasi Di UNMA Mati Kah?"


Artinya ada yang tidak beres antara "prosedural" dan "rasa keadilan".  

Kepada Panitia Pemilihan Rektor dan Dekan Kalian menggelar pesta demokrasi. Tapi jangan sampai yang diundang cuma "orang-orangnya". Demokrasi tanpa partisipasi adalah monolog. Dan monolog yang dipaksakan, lahirlah kata "DIKTATOR".


Kampus adalah rumah nalar. Jika nalar mahasiswa sudah teriak di jalan, mestinya nalar dosen sudah lebih dulu berdialog di ruang rapat.  


Diamnya kaum intelektual adalah karpet merah bagi kesewenangan.Jika hari ini kalian memilih aman, besok jangan salahkan jika kampus ini hanya jadi tempat absen, bukan tempat berpikir.


"Demo Ini Bukan Anti-unma. Ini Cinta Yang Marah. Mereka yang bawa spanduk "Selamat Datang Diktator" itu bukan pembenci UNMA.  

Justru karena mereka cinta, mereka marah. Marah karena melihat rumahnya retak.  Marah karena melihat kapal yang mereka tumpangi oleng tanpa nahkoda yang direstui semua ABK.


Spanduk yang digelar di aspal itu bukan sampah. Itu SURAT TERBUKA. Surat yang ditulis dengan keringat, bukan dengan tinta. Surat yang harus dibaca Yayasan sebelum malam tiba.


Buka ruang dialog yang jujur. Bukan sosialisasi, tapi mendengarkan.  Pastikan proses pemilihan rektor transparan. Bukan cuma jadwalnya, tapi juga nuraninya. Kembalikan UNMA sebagai rumah demokrasi.Bukan rumah kekuasaan.


Akreditasi bisa dibeli dengan borang. Tapi wibawa dibeli dengan keteladanan.  

Kepada Calon Rektor Jabatan yang lahir dari luka, tidak akan pernah bisa menyembuhkan.  

 Sejarah akan mencatat, kalian berdiri di mana saat mahasiswa kalian berteriak.


UNMA adalah milik Majalengka. Bukan milik segelintir orang.* Jika hari ini mahasiswa turun ke jalan, itu artinya jalan dialog di dalam sudah buntu.


Maka sebelum spanduk "UNMA Dalam Tragedi Kepemimpinan" jadi kenyataan,  

Tolong, buka pintu. Dengar. Dan perbaiki.  


Karena kampus yang besar bukan yang mahasiswanya diam,  

Tapi yang pemimpinnya mau mendengar meski suaranya tidak enak di telinga.**

Tim Redaksi

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl