Gambar

Gambar

Iklan

Bayang-Bayang Pola Berulang, Komisi III DPRD Majalengka Desak Audit Konstruksi Sekolah Pasca Atap SDN 3 Mirat Ambruk

REDAKSIONE
Selasa, 05 Mei 2026
Last Updated 2026-05-05T15:35:47Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini



Majalengka, THE REAL NEWS ONE— Kekhawatiran akan kualitas pembangunan fasilitas pendidikan mencuat setelah insiden ambruknya atap di SDN 3 Mirat, Kecamatan Leuwimunding, pada Jumat (1/5/2026).


Komisi III DPRD Kabupaten Majalengka pun bergerak cepat, meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap bangunan sekolah yang diduga memiliki kesamaan pola konstruksi.


Permintaan tersebut bukan tanpa alasan. DPRD menilai terdapat indikasi bahwa sejumlah proyek sekolah dikerjakan dalam waktu berdekatan, bahkan berpotensi oleh pihak yang sama, sehingga memunculkan kekhawatiran adanya keseragaman metode pengerjaan yang berisiko.


“Setelah kejadian di Andir, sekarang terjadi lagi. Karena itu kami langsung ke PUTR untuk memastikan bahwa pembangunan ke depan benar-benar memenuhi standar keamanan,” ujar Ketua Komisi III DPRD Majalengka, Selasa (5/5/2026).


Iing menegaskan, langkah ini merupakan bentuk antisipasi agar insiden serupa tidak terulang, terutama pada bangunan sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman bagi kegiatan belajar mengajar.


Dalam inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi, Komisi III mengaku menemukan sejumlah indikasi awal yang memerlukan kajian teknis lebih lanjut. Secara kasat mata, terdapat bagian konstruksi yang dinilai tidak sepenuhnya ideal.


“Kami bukan ahli teknis, tetapi kami melihat ada bagian baja ringan yang jaraknya cukup renggang. Secara perkiraan bisa mencapai satu meter atau lebih,” katanya.


Selain itu, penggunaan kayu sebagai penahan beban rangka atap turut menjadi perhatian. Dalam praktik konstruksi permanen, elemen tersebut umumnya menggunakan balok beton untuk menjamin kekuatan struktur.


“Secara umum, penopang itu menggunakan beton. Namun di sini kami melihat penggunaan kayu, yang tentu perlu diteliti lebih lanjut dari sisi teknis,” ujarnya.


Komisi III juga menyoroti kemungkinan penggunaan material kayu yang bukan baru. Dugaan adanya pemanfaatan ulang kayu bekas dinilai dapat memengaruhi daya tahan bangunan dalam jangka panjang.


“Kami khawatir kayu tersebut bukan material baru, melainkan hasil penggunaan sebelumnya yang kembali dijadikan tumpuan,” ucapnya.


Meski demikian, DPRD tidak serta-merta menyimpulkan penyebab utama kejadian. Dari hasil peninjauan sementara, ambruknya atap diduga dipicu oleh hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut dalam waktu cukup lama.


Faktor cuaca dinilai dapat memperbesar tekanan terhadap struktur bangunan, terutama jika terdapat kelemahan pada konstruksi. Karena itu, DPRD menilai perlu adanya audit teknis untuk memastikan penyebab pasti.


Ketua Komisi III menegaskan bahwa evaluasi tidak boleh berhenti pada satu titik kejadian. Pemeriksaan perlu diperluas ke bangunan lain yang memiliki karakteristik pembangunan serupa.


Langkah tersebut diharapkan menjadi pintu masuk untuk memperkuat pengawasan terhadap proyek infrastruktur pendidikan, sekaligus memastikan setiap proses pembangunan berjalan sesuai standar keselamatan.


Di tengah upaya peningkatan kualitas pendidikan, DPRD mengingatkan bahwa aspek paling mendasar adalah jaminan keamanan ruang belajar. Tanpa itu, pembangunan fisik berisiko kehilangan makna dasarnya sebagai pelindung bagi masa depan generasi.**


(Yans)

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl