THE REAL NEWS ONE - Majalengka, Hamparan terasering Panyaweuyan yang viral di Instagram itu bukan cuma latar foto. Di balik kabut tipis Argapura, 10 hektar tanah subur diam-diam berdenyut menumbuhkan bawang merah jenis 'karet yang jadi urat nadi ekonomi petani di Argapura.
Selama ini Panyaweuyan dikenal sebagai negeri di atas awan” Kini, ia sah menyandang gelar baru lumbung bawang merah di kota angin. Satu kali panen, potensi produksinya menembus 80 hingga 120 ton cukup untuk mengisi 12 truk tronton penuh.
“Dari dulu turun temurun di dieu mah sok dipelakan bawang jeung daun bawang. Eta mah geus adat,” ujar ketua gapoktan Mang kus, 54, petani yang tangannya tak pernah lepas dari cangkul di lereng Panyaweuyan, Selasa 28/4/2026.
Para petani Panyaweuyan punya kalender sendiri. Tanam pertama November Januari, panen Februari. Tanam kedua Maret Mei, panen Juni. Rotasi ini jadi senjata melawan harga jatuh. Saat ini, bawang di tingkat petani dihargai Rp 22.000 per kilogram.
Lanjut mangkus “Lumayan, tapi ulah dugi ka turun pisan pas panen raya,”harapnya. Sebuah harapan sederhana dari mereka yang tiap hari berperang dengan cuaca, hama, dan harga pasar.
Kepala DKP3 Majalengka, H. Gatot Sulaeman, menyebut harga Rp 22 ribu masih wajar dan stabil. Lebih dari itu, ia mengacungkan jempol untuk konsistensi petani wisata. “Mereka jaga kualitas. Tugas kami, jaga ekosistemnya. Atur pola tanam, dampingi teknis, buka akses pasar.
Bawang Panyaweuyan harus jadi jagoan, bukan cuma penonton di pasar induk,”tegas Gatot.
Camat Argapura, Ridwan Mochamad Ramdhani, menambahkan, denyut ekonomi Argapura kini punya dua jantung pariwisata dan bawang merah.“Satu hektare bisa hasilkan 8-12 ton. Kali 10 hektare, hitung sendiri dampaknya ke dapur warga,”ujarnya.
Kekuatan Argapura tak berhenti di Panyaweuyan. Desa Sukasari Kidul, Sagara, Teja, hingga Sukasari Kaler membentuk sabuk bawang merah yang menopang pasokan Majalengka dan sekitarnya. Ini bukti bahwa di ketinggian 600 mdpl, tanah bicara dengan bahasa produktivitas.
Pihak kecamatan Argapura memastikan sinergi tak berhenti di wacana. Pendampingan, infrastruktur jalan tani, hingga akses pemasaran digital jadi agenda. Targetnya satu Panyaweuyan bukan cuma dikenang karena sunrise ,tapi juga karena pedasnya bawang yang lahir dari peluh petani kota angin.
Karena di Argapura, pemandangan indah itu bonus. Yang utama perut rakyat terisi, petani tersenyum.**
Rno tim



