Gambar

Gambar

Iklan

Merawat Tradisi Lewat ‘Pernikahan’ Domba: Gagasan Nyata H. Ateng Sutisna dari Padepokan Condra Wisesa

REDAKSIONE
Sabtu, 11 April 2026
Last Updated 2026-04-11T22:24:23Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini


MAJALENGKA, THE REAL NEWS ONE–— Di tengah perubahan zaman yang kian cepat, sebuah pendekatan tak biasa hadir dari Padepokan Domba Tangkas Condra Wisesa di Saung Nganteur Kahayang.


Anggota Komisi XII DPR-RI Fraksi PKS, Ir. H. Ateng Sutisna, MBA, menghadirkan cara unik namun sarat makna dalam merawat budaya: menghidupkan tradisi melalui “pernikahan” domba.


Bagi Ateng, budaya bukan sekadar simbol atau seremoni, melainkan sistem nilai yang dahulu menyatu erat dengan kehidupan masyarakat, khususnya dalam sektor pertanian dan peternakan.


Ia mengingatkan bahwa tradisi seperti Ngawinkeun Tebu, kawin batu, hingga kawin cai pernah menjadi bagian dari keseharian masyarakat Sunda—sebuah kearifan lokal yang kini mulai memudar.


Di padepokan yang ia dirikan, budaya dan aktivitas sosial berjalan berdampingan. Beragam komunitas tumbuh dan berkembang, mulai dari pencak silat, seni budaya, juru kawih, komunitas tari, hingga kelompok ibu-ibu senam.


Tak ketinggalan, komunitas peternak domba dan kambing menjadi elemen penting yang menghidupkan ekosistem budaya berbasis agraris.


Salah satu kegiatan yang menjadi sorotan adalah prosesi “pernikahan” domba yang digelar secara terstruktur dan simbolik.


Layaknya pernikahan manusia, prosesi ini diawali dengan seserahan, penyambutan calon pengantin, kehadiran penghulu, khutbah nikah, hingga ijab kabul.


Setelah itu, pasangan domba diarak sebelum memasuki masa “bulan madu” selama satu bulan di kandang khusus.


Namun, tradisi ini menghadirkan sudut pandang berbeda. Jika dalam adat manusia pihak laki-laki memberi mahar dan resepsi berlangsung di pihak perempuan, maka dalam pernikahan domba justru sebaliknya: domba betina datang ke kandang jantan dan memberikan “mahar”.


Sebuah simbol yang memperkaya perspektif tentang relasi dan makna dalam budaya.


Lebih jauh, kegiatan ini juga memiliki nilai praktis dalam dunia peternakan.


Melalui prosesi tersebut, silsilah domba dapat ditelusuri secara sistematis—mulai dari asal-usul, kualitas tanduk, hingga riwayat prestasi.


Semua data dicatat secara rapi sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas dan nilai ekonomi ternak.


Salah satu momen menarik adalah ketika seekor domba jantan bernama Aril Bin Noah “menikahi” empat domba betina dari berbagai daerah: Manohara dari Majalaya, Roro Sumaroh dari Garut, serta Ini Surini dari Tasikmalaya, Sukabumi.


Peristiwa ini bukan sekadar atraksi, tetapi juga simbol integrasi genetik unggul dalam balutan tradisi lokal.


Ke depan, Ateng Sutisna berencana menjadikan kegiatan ini sebagai agenda tahunan di Padepokan Domba Tangkas Condra Wisesa.


Politisi PKS ini berharap, tradisi ini mampu menjadi daya tarik budaya sekaligus ruang edukasi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat berbasis kearifan lokal.


Di tangan Ateng, budaya tidak hanya dipelihara sebagai kenangan masa lalu, tetapi diolah menjadi kekuatan masa depan—menghubungkan tradisi, ilmu pengetahuan, dan kesejahteraan dalam satu tarikan napas yang utuh.**

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl