Gambar

Gambar

Iklan

Menyongsong Akhir Ramadhan: Masih Ada Peluang Memperbaiki Puasa Kita

REDAKSIONE
Rabu, 18 Maret 2026
Last Updated 2026-03-18T17:48:25Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini


Oleh: Aceng Syamsul Hadie (ASH)

THE REAL NEWS ONE– Ramadhan hampir berlalu. Hari-hari yang penuh berkah itu kini kian menipis, meninggalkan jejak tanya di dalam hati: sudahkah kita benar-benar memanfaatkan kesempatan agung ini? Ataukah kita justru akan melepasnya dengan penyesalan yang diam-diam mengendap dalam jiwa?


Ramadhan bukan sekadar rutinitas ibadah tahunan. Ia adalah panggilan cinta dari Allah SWT—undangan untuk kembali mendekat, membersihkan diri, dan memperbaiki hubungan yang mungkin selama ini renggang. Di bulan inilah pintu-pintu ampunan dibuka lebar, doa-doa diangkat, dan setiap amal dilipatgandakan nilainya. Namun, sering kali kita terlena oleh kebiasaan, menjalani puasa sebatas kewajiban tanpa menghadirkan hati sepenuhnya.


Kini, saat Ramadhan berada di ujung perjalanan, kita dihadapkan pada kenyataan yang jujur: masih ada kekurangan dalam ibadah kita. Mungkin ada puasa yang sekadar menahan lapar, tetapi lisan masih menyakiti. Mungkin ada shalat yang tertunaikan, tetapi hati belum sepenuhnya khusyuk. Mungkin ada sedekah yang diberikan, tetapi belum disertai keikhlasan yang utuh. Semua itu bukan untuk disesali secara berlebihan, melainkan untuk diperbaiki selagi waktu masih tersisa.


Sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah anugerah yang luar biasa. Di dalamnya tersimpan satu malam yang lebih baik dari seribu bulan—malam yang penuh kemuliaan dan ampunan. Betapa ruginya jika kita melewatkan kesempatan ini tanpa kesungguhan. Inilah saatnya memperbanyak doa, memperdalam istighfar, dan menghadirkan hati yang benar-benar tunduk kepada Allah SWT.


Air mata yang jatuh di sepertiga malam, doa yang lirih dalam sujud panjang, dan penyesalan yang tulus—semua itu adalah tanda bahwa hati kita masih hidup. Bahwa kita masih memiliki harapan untuk berubah, untuk kembali menjadi hamba yang lebih baik. Tidak ada kata terlambat selama Ramadhan masih bersama kita.


Di saat yang sama, mari kita lembutkan hati untuk sesama. Barangkali masih ada luka yang belum disembuhkan, ada salah yang belum dimaafkan. Menjelang Idul Fitri, Allah SWT mengajarkan kita untuk membersihkan tidak hanya hubungan dengan-Nya, tetapi juga hubungan dengan manusia. Memaafkan adalah kemuliaan, dan keikhlasan adalah puncak dari keimanan.


Ramadhan akan pergi, tetapi nilai-nilainya seharusnya tetap tinggal. Jangan biarkan ia berlalu hanya sebagai kenangan tanpa makna. Jadikan sisa waktu yang ada sebagai kesempatan terakhir untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, dan memperbarui niat.


Semoga ketika Idul Fitri tiba, kita tidak hanya bergembira karena berakhirnya puasa, tetapi juga karena hati kita telah benar-benar kembali kepada fitrah—bersih, tenang, dan penuh harap akan ridha Allah SWT.


Karena pada akhirnya, yang terpenting bukanlah seberapa sempurna kita menjalani Ramadhan, tetapi seberapa sungguh-sungguh kita berusaha menjadi lebih baik sebelum ia benar-benar meninggalkan kita.**


*) Penulis,  Aceng Syamsul Hadie, S.Sos., MM. (Ketua Umum Yayasan Daarurrahman Cigayam Kecamatan Kasokandel Kabupaten Majalengka.)

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl