Gambar

Gambar

Iklan

Megalomania dan Panggung Kekuasaan

REDAKSIONE
Selasa, 03 Maret 2026
Last Updated 2026-03-03T10:04:11Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini


THE REAL NEWS ONE— Di tengah derasnya proyek besar, seremoni megah, dan narasi pencapaian yang terus diputar di ruang publik, satu pertanyaan layak diajukan: apakah kita sedang membangun institusi, atau membesarkan figur?


Kekuasaan selalu membawa dua kemungkinan: memperkuat sistem atau mempertebal ego. Dalam psikologi politik, megalomania sering dipakai sebagai metafora untuk dorongan merasa diri sangat penting, tak tergantikan, dan layak dikenang sebagai tokoh besar sejarah. Ia bukan sekadar istilah medis, melainkan peringatan tentang risiko yang melekat pada jabatan tinggi.


Gejalanya tidak selalu dramatis. Ia hadir perlahan: keyakinan bahwa hanya satu orang yang mampu membawa perubahan; kebutuhan kuat melekatkan nama pada program publik; sensitivitas rendah terhadap kritik; dan lingkaran kekuasaan yang semakin homogen. Ambisi yang awalnya diperlukan untuk memimpin bisa berubah menjadi kebutuhan untuk dikenang.


Namun persoalan ini bukan semata soal pribadi. Ia soal sistem. Demokrasi dirancang untuk membatasi hasrat berlebihan melalui pengawasan, transparansi, dan akuntabilitas. Ketika mekanisme kontrol melemah, ketika kritik dianggap ancaman stabilitas, dan ketika simbol lebih dominan daripada substansi, maka ruang koreksi menyempit.


Fenomena kekinian memperlihatkan pola yang patut direnungkan. Proyek raksasa diluncurkan dengan narasi kebanggaan nasional, meski urgensi dan kesiapan sering diperdebatkan. Program sosial dikemas dengan identitas kuat yang melekat pada figur tertentu. Keputusan besar bergerak cepat atas nama terobosan, sementara dialog publik terasa tertinggal. Seremoni melaju, evaluasi menyusul.


Tentu tidak semua kebijakan besar lahir dari dorongan personal. Negara memang memerlukan visi dan keberanian. Namun perbedaannya terletak pada fondasi: apakah kebijakan itu lahir dari kebutuhan publik yang terukur dan proses partisipatif, atau dari dorongan membangun jejak sejarah pribadi?


Psikologi kekuasaan mengenal “efek gema”—ketika seorang pemimpin lebih sering mendengar persetujuan daripada peringatan. Di era media sosial, gema itu semakin nyaring. Algoritma menguatkan citra, tim komunikasi merapikan narasi, kritik mudah terpinggirkan. Dalam ruang seperti ini, batas antara visi dan obsesi menjadi tipis.


Megalomania bukanlah cap yang bisa ditempelkan sembarangan. Ia adalah risiko permanen dari kekuasaan. Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan siapa yang mengalaminya, melainkan apakah sistem cukup kuat untuk menahannya.


Jika kekuasaan lebih sibuk membangun panggung daripada memperkuat fondasi, maka yang tersisa bukanlah ketahanan institusi, melainkan ketergantungan pada figur. Dan ketika figur itu pergi, yang terlihat adalah kekosongan yang sebelumnya tersembunyi di balik gemerlap.


Dalam politik hari ini—di dunia maupun di Indonesia—apakah kita sedang memperkuat sistem agar tahan terhadap godaan kebesaran pribadi, atau justru membiarkan sistem menyesuaikan diri pada hasrat untuk dikenang?


Panggung memberi tepuk tangan, sejarah memberi putusan.(*)


*) Penulis: Prof. Dr. Yoyon Suryono, M.S. 

(Akademisi dan Pengamat Sosial Politik)


*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi THE REAL NEWS ONE.

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl