Gambar

Gambar

Iklan

"MAMAN SUPARMAN: ARSITEK YANG TERLUPAKAN DI RUMAH YANG IA BANGUN SENDIRI"

Redaksi one
Selasa, 28 Juli 2026
Last Updated 2026-07-28T16:35:28Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini


Real news one -Majalengka – Setiap institusi besar memiliki 2 narasi. Narasi pertama tertulis di prasasti dan baliho. 

Narasi kedua tersembunyi dalam keringat dan jejak langkah para pendahulunya.


Maman Suparman,S.Pd.,M.M.Pd. adalah narasi yang kedua.


Hari ini, dalam struktur organisasi Universitas Sindangkasih, nama beliau tercantum sebagai "Staf PMB".  

Tugas utamanya: bersosialisasi ke sekolah-sekolah, menggelar UNIVDAY, PAMERAN, dan membangun jembatan kepercayaan dengan orang tua calon mahasiswa.  

Sebuah kerja lapangan. Kerja sunyi. Kerja yang tidak pernah masuk ke dalam brosur penerimaan, namun menentukan apakah brosur itu akan dilirik atau diabaikan.




Namun, mari kita runut sejarah.


Jauh sebelum predikat "Universitas" disematkan pada "Sindangkasih".  

Jauh sebelum USKM menjadi destinasi akademik ribuan pemuda Majalengka...  

Beliaulah sang inisiator.


Di era YASIKA, beliau adalah orang pertama yang menggagas dan memperjuangkan transformasi menjadi USKM di forum-forum resmi.  

Beliau yang berjalan dari satu sekolah ke sekolah lain, di saat keraguan masih lebih besar daripada harapan.  

Seorang purnabakti Dinas Pendidikan. 39 tahun mengabdi untuk pendidikan Majalengka. 


Dan jejaknya tidak berhenti di situ.  

Beliau juga aktif di ranah LSM, Ormas, dan Media.  

Artinya, beliau bukan orang baru. Beliau adalah wajah yang akrab dan suara yang didengar di ekosistem sosial Majalengka.


_Hari ini, ribuan mahasiswa duduk tenang di ruang kuliah.  

Karena dulu, ada satu orang yang rela berkeringat di bawah terik lapangan._


Ironisnya, hari ini kita menyaksikan:  

Mereka yang baru kemarin lulus, telah duduk di kursi dosen.  

Sementara sang peletak batu fondasi, masih disapa "Pak Staf".


Ini bukan soal kecemburuan.  

Ini adalah soal nurani kelembagaan.  

Pertanyaannya sederhana: "Sudahkah kita cukup menghormati sejarah yang membesarkan kita?"


Kampus yang besar tidak diukur dari kemegahan gedungnya.  

Tapi dari kedalaman ia menghargai para arsiteknya.  

Kampus yang hebat tidak hanya mencetak sarjana.  

Tapi juga memuliakan guru-gurunya.


Maka, melalui tulisan ini, RNO menyerukan kepada Pimpinan Universitas Sindangkasih:  

Berikan Pak Maman Suparman tempat yang layak.  

Angkat beliau sebagai Dosen Senior. Beri beliau gelar Guru Besar Kehormatan.  

Karena beliau bukan hanya aset administratif. Beliau adalah arsip hidup. Beliau adalah kurikulum yang berjalan.


Untuk para Akademisi, LSM, Ormas, dan Insan Pers: 

Belajarlah.  

Bahwa wibawa sejati tidak selalu lahir dari mimbar orasi.  

Kadang ia lahir dari seseorang yang paling sering kita jumpai di koridor, dengan map di tangan dan senyum yang tulus.


Maman Suparman. 

Bukan sekedar nama dalam daftar gaji.  Beliau adalah bukti empiris bahwa pengabdian tidak pernah salah alamat.

Oleh : Redaksi RNO

Tim : editor RNO

#UniversitasSindangkasih #USKM #Majalengka #Pendidikan #Pengabdian #DosenSenior #ArsipHidup #RealNewsOne`

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl