REAL NEWS ONE -Majalengka Perebutan kursi `Direktur Operasional BPR Majalengka` memasuki babak akhir. Empat nama terbaik telah lolos saringan Panitia Seleksi Kabupaten Majalengka: `Eman Sumarna, Nandan Sudiana, Odi Muplihudin, dan Usep Wira Santika`.
Mereka sudah melewati administrasi hingga Uji Kelayakan dan Kepatutan (UKK). Kini tinggal menunggu keputusan akhir setelah wawancara bersama Bupati Majalengka. Nama terpilih nantinya akan diajukan ke OJK.
Kami jurnalis di `REAL NEWS ONE` mengapresiasi proses seleksi yang terbuka. Tapi apresiasi tanpa kontrol sama dengan pembiaran.
Karena kursi `Direktur Operasional BPR` bukan kursi biasa. Ini kursi yang memegang `uang rakyat Majalengka`.
Lolos UKK itu hebat. Tapi ujian sesungguhnya bukan di ruangan ber-AC bersama Bupati.
Ujian sesungguhnya adalah: `Berani tidak menolak titipan? Berani tidak menolak "pelicin"?`
Kami tidak menuduh. Kami hanya mengingatkan.
Di Majalengka, untuk jadi RT saja orang berani keluar uang besar. Apalagi ini `BPR` - bank yang uangnya berputar ratusan miliar.
Jangan sampai semangat "asal dekat, asal ada uang pelicin" masuk ke BUMD. Karena kalau itu terjadi, maka yang menang bukan yang terbaik. Tapi yang `paling berani bayar`.
Rakyat Majalengka tidak butuh Direktur yang jago lobi. Rakyat butuh Direktur yang menjawab 3 hal:
BERPIHAK`: Beranikah memprioritaskan kredit untuk UMKM, petani, dan pedagang kecil? Bukan hanya mengejar debitur besar.
BERSIH`: Beranikah memotong rantai "calo kredit" dan praktik yang membebani nasabah kecil?
BERANI`: Beranikah berkata TIDAK saat ada tekanan politik untuk menyalurkan dana ke kelompok tertentu?
BPR Majalengka selama ini sering dinilai `kurang berpihak ke masyarakat bawah`. Nah, ini saatnya membuktikan.
Keputusan akhir ada di tangan Bupati dan rekomendasi ke OJK. Kami percaya Pak Bupati ingin yang terbaik untuk Majalengka.
Maka pilihlah bukan yang `paling dekat`.Pilihlah yang `paling rekam jejaknya bersih`. Pilihlah yang `paling paham penderitaan rakyat kecil`. Karena kalau salah pilih, maka BPR bukan lagi menjadi `Bank Rakyat`.
Tapi berubah jadi `Bank Kerabat`.
Masyarakat majalengka. Hanya Titip 1 Kalimat: Jangan Jual Nama Baik Majalengka Demi Kepentingan Pribadi.`
Kami tunggu Direktur baru yang berani. Bukan yang hanya berani saat kampanye.
Redaksi RNO
Media PenjagaNalarKritis


