Oleh Aceng Syamsul Hadie Gonsus'88
Ketua TERISDA
(Teater Islam Darussalam)
Periode 1986 - 1988
THE REAL NEWS ONE - Seratus tahun bukan sekadar hitungan kalender. Ia adalah jejak kaki yang menembus musim, mengarungi zaman, dan menyapa masa depan dengan keyakinan. Dari sebuah kampung bernama Gontor, cahaya itu dinyalakan; kecil pada awalnya, namun tak pernah padam. Ia menjelma pelita yang menerangi jalan panjang peradaban.
Di halaman-halaman pesantren itu, embun selalu lebih dahulu menyapa daripada matahari. Lantunan ayat suci bersahutan dengan langkah-langkah para pencari ilmu. Di sana, ilmu bukan sekadar hafalan, melainkan akhlak yang hidup. Disiplin bukanlah paksaan, tetapi jalan menuju kemerdekaan jiwa. Keikhlasan bukan semboyan, melainkan napas yang menghidupi setiap pengabdian.
Gontor tidak membangun tembok untuk memisahkan dunia, tetapi membuka jendela agar dunia dapat dipandang dengan mata yang jernih. Dari ruang-ruang belajar yang sederhana, lahirlah mimpi-mimpi besar. Dari asrama yang penuh kebersamaan, tumbuh manusia-manusia yang belajar mencintai sesama sebelum mencintai dirinya sendiri.
Seratus tahun kemudian, jejak itu telah menjelma ribuan langkah. Para alumninya berjalan ke berbagai penjuru bumi. Ada yang menjadi guru, ulama, diplomat, akademisi, pemimpin, pengusaha, penulis, dan pelayan masyarakat. Mereka membawa satu pesan yang sama: bahwa ilmu adalah cahaya, dan akhlak adalah arah.
Gontor melukis dunia bukan dengan kuas dan warna, tetapi dengan manusia. Setiap santri adalah guratan harapan. Setiap guru adalah sapuan keikhlasan. Setiap doa yang terangkat di sepertiga malam adalah warna yang memperindah kanvas peradaban. Lukisan itu tak tergantung di dinding, melainkan hidup di hati manusia dan menjelma karya nyata bagi umat.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh ambisi, Gontor tetap mengajarkan kesunyian yang melahirkan kebijaksanaan. Di tengah zaman yang mengukur segala sesuatu dengan materi, Gontor mengingatkan bahwa kemuliaan sejati lahir dari ilmu yang diamalkan dan pengabdian yang tidak mengharapkan tepuk tangan.
Kini, ketika satu abad telah terlewati, Gontor tidak sedang menoleh ke belakang untuk berbangga diri. Ia sedang menatap cakrawala baru, menyambut abad kedua dengan keyakinan bahwa perjalanan belum usai. Sebab pendidikan adalah mata air yang tak boleh kering, dan pengabdian adalah jalan panjang yang tak mengenal garis akhir.
Biarlah menara Gontor tetap menjulang, bukan sekadar sebagai bangunan, melainkan sebagai lambang cita-cita yang tak pernah runtuh. Biarlah azan, kitab, pena, dan doa terus berpadu menjadi simfoni yang mengiringi lahirnya generasi yang berilmu, berakhlak, dan berjiwa pemimpin.
Selamat Milad Satu Abad Pondok Modern Darussalam Gontor.
Teruslah melukis dunia dengan tinta ilmu, warna akhlak, dan kanvas kemanusiaan. Karena selama masih ada manusia yang mencari cahaya, selama itu pula nama Gontor akan hidup, bukan hanya dalam sejarah Indonesia, tetapi juga dalam denyut peradaban dunia.[]


