Gambar

Gambar

Iklan

TARI TOPENG RANDEGAN: IDENTITAS BUDAYA MAJALENGKA YANG HAMPIR TERLUPAKAN KARENA MINIM SOSIALISASI.

Redaksi one
Sabtu, 25 Juli 2026
Last Updated 2026-07-25T09:22:53Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini


REAL NEWS ONE - MAJALENGKA–Derasnya arus budaya global, Pemerintah Kabupaten Majalengka melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan diharapkan kembali menoleh ke warisan leluhur. Salah satunya adalah Tari Topeng Randegan , kesenian tradisional yang lahir dan besar di tanah Majalengka.


Tari Topeng Randegan pertama kali muncul sekitar tahun 1942, di masa sulit. Kesenian ini lahir dari tradisi Tari Topeng Cirebon yang kemudian berkembang dan berakar kuat di wilayah Priangan Timur. Dahulu, para seniman membawanya dari desa ke desa dengan cara _"ngamen"_ untuk menghibur dan menyampaikan pesan moral kepada masyarakat.


`Lebih Dari Sekadar Tari`: 


Tari Topeng Randegan bukan hanya pertunjukan. Ia adalah identitas seni Majalengka.  

Setiap gerak yang dinamis dan ekspresi topeng yang dikenakan para penari memiliki filosofi mendalam. Topeng-topeng tersebut menggambarkan watak manusia: ada yang bijaksana, gagah, lucu, hingga serakah. Melalui tarian ini, masyarakat diajarkan tentang perjalanan hidup, nilai kebaikan, dan jati diri sebagai manusia.


“Menjadi identitas seni pertunjukan tradisional khas Majalengka, Tari Topeng Randegan sarat dengan simbol dan mengikuti tradisi lokal,” demikian tertulis dalam catatan budaya Indonesia.


Fakta Di Lapangan: Kurang Sosialisasi`


Namun ironisnya, di tanah kelahirannya sendiri, kesenian ini kini menghadapi tantangan kepunahan. Minimnya panggung, kurangnya regenerasi penari muda, dan minimnya pengenalan di sekolah membuat banyak generasi muda Majalengka belum mengenal tari kebanggaannya sendiri.


Hal ini dibenarkan oleh salah seorang tokoh H. Raden Yayat Nuruiat masyarakat seni budaya Majalengka.  

_"Pada awalnya saya dari wilayah selatan tidak tahu. Mengira tidak ada di Majalengka. Ternyata di wilayah Majalengka Utara sudah ada. Memang kurang disosialisasikan oleh Dinas PARBUD Majalengka,"_ ujarnya.


Pernyataan ini menjadi tamparan sekaligus pengingat bahwa warisan budaya bisa "hilang" bukan karena punah, tapi karena tidak diperkenalkan.


Ajakan Pelestarian Bersama:


Untuk itu, kami mengajak seluruh elemen, khususnya Sanggar MAHARANI Seni dan Budaya Jatiwangi Majalengka untuk menjadi garda terdepan pelestarian.


Kepada Dinas Pendidikan & Kepala Sekolah : Mari masukkan Tari Topeng Randegan dan seni Sampyong dalam ekstrakurikuler dan muatan lokal.


Kepada Dinas PARBUD & Komunitas Seni : Perluas pementasan di alun-alun, acara desa, dan event budaya. Gencarkan sosialisasi.


Kepada Masyarakat Majalengka : Bangga dulu dengan punya sendiri. Tonton, share, dan dukung sanggar tari di lingkungan Anda.


Jangan sampai anak cucu kita bertanya, _"Apa itu Tari Topeng Randegan?"_ dan kita hanya bisa menjawab, _"Dulu pernah ada..."_


Visi "Majalengka Langkung Sae" tidak akan lengkap tanpa menjaga ruh budayanya. Karena kemajuan tanpa identitas, sama saja dengan berjalan tanpa arah.


Topeng boleh menutup wajah penari,  

tapi jangan sampai menutup jati diri kita sebagai orang Majalengka.


Oleh : kang oby kresna

Redaksi Rno

Tim : Redaksi RNO

#MajalengkaLangkungSae #TariTopengRandegan #LestarikanBudaya #BanggaBuatanMajalengka #DisparbudMajalengka

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl