masukkan script iklan disini
PRESIDEN PRABOWO SEBUT KELOMPOK KRITIS "LONDO IRENG", AJI & AMNESTY DESAK MINTA MAAF
THE REAL NEWS ONE - JAKARTA, Pidato Presiden Prabowo Subianto di acara Hari Lahir ke-28 PKB, Kamis (23/7) di Jakarta, memicu gelombang kecaman. Dalam pidatonya, Presiden menyamakan kelompok kritis seperti jurnalis, pengamat, ekonom, dan LSM dengan istilah sejarah "Londo Ireng".
Istilah "Londo Ireng" secara historis merujuk pada pribumi yang membela penjajah Belanda di masa perang kemerdekaan. Penggunaan istilah tersebut kepada kelompok kritis dinilai berlebihan dan menyakitkan.
"ITU TUDUHAN SERIUS"
Sekretaris Jenderal Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bayu Wardhana menegaskan, jurnalis adalah pilar keempat demokrasi. Menuduh jurnalis sebagai "Londo Ireng" sama dengan menuduh pengkhianat bangsa.
"Itu tuduhan serius. Londo Ireng itu frasa yang digunakan untuk pengkhianat bangsa, orang Indonesia yang membela Belanda ketika perang. Padahal jurnalis adalah salah satu elemen penting bagi bangsa Indonesia," tegas Bayu.
AJI mendesak Presiden Prabowo untuk menyampaikan permintaan maaf terbuka.
KRITIK ADALAH VITAMIN DEMOKRASI
Senada, Juru Bicara Amnesty International Indonesia Haeril Halim menilai pernyataan tersebut menunjukkan ketidakmampuan menerima pengawasan publik.
"Dengan sisa masa jabatan hingga 2029 seharusnya beliau manfaatkan untuk sungguh-sungguh bekerja dan menjawab kritik lewat kinerja nyata, bukan dengan narasi-narasi kebencian yang bisa memecah-belah masyarakat," jelas Haeril.
Di sisi lain, Presiden Prabowo dalam pidatonya juga menegaskan bahwa Indonesia sebagai negara demokrasi tidak pernah antikritik. Namun ia menyayangkan adanya pihak yang dinilai mengabdi pada kepentingan asing untuk melemahkan bangsa.
Catatan Redaksi RNO :
Pers bebas adalah cermin demokrasi. Mengkritik bukan berarti membenci. Mengawasi bukan berarti mengkhianati.
Karena negara yang besar dibangun dari perbedaan pendapat, bukan dari pembungkaman.
Oleh: Tim Redaksi RNO


