Majalengka, RNO- Program Makanan Bergizi Gratis adalah harapan. Tapi harapan bisa busuk, jika dapurnya dikelola oleh tangan-tangan yang hanya menghitung untung.
Senin (13/7/2026), Bupati Majalengka Eman Suherman tidak lagi bicara basa-basi. Beliau membongkar persoalan paling rawan di program MBG : `mental pengelola.
"Kami sudah akomodasi semua. Sewa mobil, sewa tempat, semua ada aturannya. Jangan lagi mengejar keuntungan di pengolahan makanannya," tegas Bupati.
Sebuah kalimat sederhana. Tapi menampar. Bupati minta menu diseragamkan. Bukan tanpa alasan. Agar tidak ada celah "menyembunyikan kualitas rendah". Agar 1 sekolah bisa jadi cermin bagi sekolah lain. Ini kompetisi kualitas, bukan kompetisi akal-akalan.
pesan Bupati Eman Suherman : "Bayangkan, anak-anak itu kan orang yang belum punya dosa. Kalau jatahnya dipotong oleh mitra yang tidak punya hati dan keikhlasan, kasihan."
Sudah jelas. Ini bukan lagi soal bisnis. Ini soal nurani. Guru di Leuwimunding menyambut baik. "Jika menu diseragamkan, pengecekan gizi dan kebersihan akan jauh lebih terukur."Artinya mata-mata pengawas kini ada di setiap ruang kelas.
Terima kasih Pak Bupati Eman Suherman. Karena berani bicara di depan. Karena tidak membiarkan program baik ini dicoreng oknum.
Tapi pertanyaannya dari Media Therealnewsone. Id sekarang : Tim pemantau sudah siap 24 jam ? Sanksi untuk yg "memotong jatah" sudah jelas ?
Tim RNO mendukung penuh. Kami akan ikut memantau. Dari dapur, ke kelas, ke meja anak-anak. Karena memberi makan anak bangsa bukan proyek. Ini ibadah.
Penulis : Tim Redaksi therealnewsone.id


