Gambar

Gambar

Iklan

Anak Saya Ke Pondok Untuk Belajar, Bukan Untuk Dibakar" - Tangis Ibu Lombok Guncang Ruang Komisi III DPR

Redaksi
Senin, 13 Juli 2026
Last Updated 2026-07-13T17:01:07Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini

 


REAL NEWS ONE - Mataram, Tangis seorang ibu memecah keheningan Rapat Dengar Pendapat Komisi III DPR RI dari Mataram.


Dengan suara terbata dan dibantu penerjemah karena keterbatasan Bahasa Indonesia, ia hanya punya satu tuntutan : keadilan untuk anaknya, Sahril Sobirin.


"Anak saya ke pondok untuk belajar bukan untuk disiksa, lalu dibakar sampai mati," ucapnya lirih.


Kalimat itu bukan sekadar keluh kesah. Itu adalah tamparan keras untuk kita semua.

  

Bukankah pondok pesantren adalah rumah kedua bagi anak bangsa ? Di mana pengawasan ? Di mana perlindungan ?

  

Jika tempat menuntut ilmu berubah menjadi tempat hilangnya nyawa, maka siapa lagi yang bisa dipercaya para orang tua ?

  

Mengapa baru bersuara setelah ada korban ? Mengapa baru gaduh setelah seorang ibu harus berjalan jauh, menahan tangis di depan wakil rakyat dan Presiden ?


Sang ibu menolak segala bentuk "upaya damai" yang mencederai kemanusiaan. Ia meminta satu hal sederhana: `Hukum Ditegakkan Seadil-adilnya. Tanpa Pandang Bulu.`

Dan seluruh pihak yang terlibat, atau yang mencoba menutupi, harus diproses.


Kasus Sahril bukan hanya kasus Lombok Tengah. Ini cermin kelam pendidikan keagamaan kita.

Jangan sampai ada lagi ibu lain yang harus menangis di ruang sidang demi anaknya.


Media online therealnewsone. Id menyampaikan duka mendalam. Dan kami akan terus mengawal, sampai titik darah penghabisan.


Penulis : Tim Redaksi therealnewsone.id

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl