Majalengka,THE REAL NEWS ONE – Dua pengurus KONI Majalengka jadi tersangka. Dana hibah 2024-2025 diduga dikorupsi. Kini, Rp2,55 Miliar anggaran pembinaan atlet dialihkan langsung oleh Dispora.
Keputusan itu tepat. Tapi pertanyaannya: *Kenapa harus menunggu ada tersangka dulu baru dievaluasi?
EVALUASI YANG TERLAMBAT ADALAH KELALAIAN YANG DISEMBUNYIKAN
Kami menghormati asas praduga tak bersalah. Proses hukum di Kejari harus jalan.
Tapi publik berhak bertanya : Di mana fungsi pengawasan Dispora selama ini?
Hibah miliaran bukan uang receh. Itu uang rakyat, uang keringat atlet.
Jika pengawasan baru jalan setelah ada OTT dan tersangka, maka itu bukan evaluasi. Itu "pemadam kebakaran".
3 CATATAN KRITIS RNO UNTUK DISPORA & PEMERINTAH DAERAH:
1. JANGAN SAMPAI "DEKAT KUASA" MEMBUTAKAN PENGAWASAN.
Kedekatan dengan penguasa atau lembaga mitra bukan alasan untuk melonggarkan audit.
Justru karena dekat, pengawasan harus 2x lebih ketat. Agar tidak ada ruang untuk "saling jaga".
2. ANGGARAN UNTUK ATLET, BUKAN UNTUK PROYEK CITRA
Rp2,55 Miliar yang dialihkan harus 100% sampai ke cabang olahraga, ke pelatih, ke gizi atlet, ke lapangan.
Bukan habis untuk seremonial, spanduk, dan foto-foto.
Rakyat Majalengka sudah muak lihat anggaran olahraga jadi ajang narsis pejabat.
3. PEMBINAAN TIDAK BOLEH JADI KORBAN
Kami sepakat dengan Kadispora: pembinaan jangan berhenti.
Tapi pembinaan yang sehat lahir dari sistem yang bersih.
Atlet berprestasi tidak akan lahir dari lembaga yang bobrok tata kelolanya.
Catatan Redaksi RNO:
Kasus KONI adalah alarm.
Bukan hanya untuk KONI. Tapi untuk semua lembaga penerima hibah di Majalengka.
Jangan tunggu ada tersangka baru tertib.
Jangan tunggu viral baru bekerja.
Jangan tunggu rakyat marah baru sadar.
Karena uang negara bukan untuk dibagi. Uang negara adalah titipan untuk melahirkan juara.
Penulis : jurnalis Investigasi Analisis RNO
Editor : agung.
#RNO #KONIMajalengka #KorupsiDanaHibah #DisporaMajalengka #UangRakyat


