masukkan script iklan disini
THE REAL NEWS ONE Majalengka, - Di usia yang ke-555, Desa Nunuk, Kecamatan maja, Kabupaten Majalengka tidak sekadar merayakan serangkaian acara. Lebih dari itu, Nunuk sedang menegaskan jati dirinya sebagai "Tanah Leluhur Kota Angin" yang menolak lupa pada sejarah.
Dengan mengusung tema "Nyiramkeun Pusaka Karuhun Nunuk dan Gelar Adat Budaya", Pemerintah Desa Nunuk Baru di bawah kepemimpinan Kepala Desa Nono Sutrisno, menggelar puncak peringatan pada Kamis, 15 Safar 1448 H / 30 Juli 2026 M.
Acara ini bukan sekadar seremoni tahunan. Ini adalah napak tilas, ini adalah sumpah kultural, dan ini adalah bukti nyata bahwa adat istiadat tidak punah. Ia hanya menunggu waktu dan tangan-tangan yang berani untuk dihidupkan kembali.
WARISAN HIDUP YANG DIPENTASKAN
Sepanjang acara, kekayaan budaya Sunda di Nunuk ditampilkan secara utuh dan megah:
1. Tarian Tenun Gadod yang menenun benang sejarah menjadi gerak.
2. Kirab Budaya yang mengarak pusaka dan martabat para leluhur Nunuk.
3. Ratusan Tumpeng sebagai simbol syukur dan kemakmuran warga.
4. Silat Buhun yang menegaskan bahwa kekuatan masyarakat berakar pada pegangan tradisi.
5. Demo Tenun, Seni Sunda Rancage, dan Rampak Lesung yang menjadi bukti bahwa budaya adalah napas ekonomi masyarakat.
DIHADIRI PIMPINAN DAERAH
Yang membuat acara ini semakin khidmat dan berwibawa adalah kehadiran langsung unsur pimpinan daerah.
Turut hadir dan memberikan apresiasi tinggi:
Wakil Bupati Majalengka, Dena Muhammad Ramdhan
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Majalengka
Beserta para sesepuh, budayawan, tokoh masyarakat, dan ribuan warga Desa Nunuk.
Kehadiran para pejabat ini menjadi pengakuan resmi negara hadir bahwa budaya adalah pilar penting dalam pembangunan daerah.
"Kemajuan tidak harus membunuh tradisi. Modernisasi tidak harus melupakan leluhur. Karena sejatinya, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati sejarahnya," demikian pesan yang mengemuka dalam acara tersebut.
Atas nama masyarakat, apresiasi tinggi patut diberikan kepada Bapak Kades Nono Sutrisno yang visioner dan berani bermimpi besar untuk desanya. Begitu pula kepada seluruh pelaku budaya yang dengan setia menjaga "api" tradisi agar tidak pernah padam ,ujar Endang kurniawan anggota linmas desa nunuk.
555 tahun bagi Nunuk bukanlah titik akhir. Ini adalah awal dari kebangkitan baru. Kebangkitan sebuah desa yang memilih berjalan ke masa depan dengan menoleh ke belakang, memeluk akar.
_Wahai Nunuk, teruslah meniupkan "angin" peradaban._
Penulis: Tim Koresponden RNO - Langsung dari Lapangan.
Redaksi RNO



