Dalam rangkaian Safari Ramadhan Kareem DPP Partai NasDem bertajuk “Menguatkan Silaturahmi, Meneguhkan Perubahan”, Ade Rahmat turut hadir, menegaskan langkah dan komitmennya bersama barisan restorasi.
Kegiatan yang digelar di Pondok Pesantren Bustanun Nasyi'in itu menghadirkan Wakil Ketua Umum Partai NasDem sekaligus Wakil Ketua DPR RI, Saan Mustopa.
Turut mendampingi, Sekretaris Jenderal Partai NasDem, Hermawi Taslim; Ketua Bidang Kaderisasi dan Pendidikan Politik, Nining Indra Saleh; Anggota DPR RI Ujang Bey; serta Ketua DPD NasDem Majalengka, Wawan Darmawan, S.Pd., beserta jajaran.
Ratusan santri dan masyarakat pun memadati halaman pesantren, menyambut rombongan dengan hangat dan khidmat.
Dalam sambutannya, Saan Mustopa menegaskan bahwa Safari Ramadhan bukan sekadar agenda rutin, melainkan ruang silaturahmi yang harus terus dirawat.
Ia menyampaikan pesan Ketua Umum Surya Paloh agar seluruh kader menjaga tali persaudaraan dengan masyarakat, terutama melalui pesantren-pesantren yang menjadi benteng moral bangsa.
“Safari ini adalah komunikasi hati. Kami ingin mendengar langsung aspirasi masyarakat dan pesantren. Jangan sampai kader NasDem menyakiti rakyat kecil. Jaga perasaan mereka, bersimpati dan berempatilah,” tegasnya, disambut anggukan para hadirin.
Menurutnya, pesantren memiliki kontribusi besar dan posisi strategis dalam sejarah bangsa. Dari rahim pesantren, nilai-nilai perjuangan dan kemerdekaan disemai.
Termasuk Pondok Pesantren Bustanun Nasyi'in yang telah menjadi bagian dari denyut sosial dan spiritual masyarakat Majalengka.
Ade Rahmat, yang turut mengikuti rangkaian kegiatan tersebut, tampak membaur bersama santri dan masyarakat.
Kehadirannya menjadi simbol bahwa politik tak boleh berjarak dari rakyat.
Bahwa perubahan bukan hanya jargon, melainkan kerja-kerja sunyi yang lahir dari dialog, dari doa-doa yang dipanjatkan di ruang-ruang sederhana pesantren.
Safari Ramadhan ini pun menjadi peneguhan bahwa perjuangan politik harus berpijak pada nurani.
Menguatkan silaturahmi bukan hanya menyambung tangan, tetapi juga menyatukan visi—bahwa perubahan sejati tumbuh dari empati, dan dari keberanian untuk selalu mendengar suara yang paling lirih sekalipun.***


