Gambar

Gambar

Ini Bukan Lilin Perayaan Ultah, Tapi Lilin Duka: Tragedi Drag Race Upai Sisakan Luka Mendalam

Redaksi
Selasa, 11 Agustus 2026
Last Updated 2026-08-11T05:57:40Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini


KOTAMOBAGU, THEREALNEWSONE.ID — Deretan lilin yang menyala di tengah suasana duka bukanlah simbol perayaan ulang tahun. Bukan pula cahaya pesta yang penuh kegembiraan. Lilin-lilin itu menjadi ungkapan kehilangan, doa dan rasa duka yang mendalam atas tragedi drag race di Jalan A.P. Mokoginta, Kelurahan Upai, Kecamatan Kotamobagu Utara, yang dilaporkan merenggut delapan nyawa dan menyebabkan sejumlah warga lainnya mengalami luka-luka.


Nyala lilin itu seakan menjadi saksi bisu sebuah peristiwa yang meninggalkan luka bagi keluarga korban dan masyarakat Kota Kotamobagu.


Di tempat yang seharusnya menjadi ruang lalu lintas masyarakat, kini tersisa kenangan pahit. Jalan A.P. Mokoginta yang belum lama mendapatkan sentuhan perbaikan dari Pemerintah Kota Kotamobagu justru berubah menjadi lokasi tragedi yang memilukan.


Ini bukan lilin perayaan. Ini adalah lilin duka.


Setiap nyala api seolah mewakili satu kehidupan yang telah pergi. Di balik delapan korban meninggal dunia, terdapat keluarga yang kehilangan orang terkasih, anak yang kehilangan orang tua, orang tua yang kehilangan anak, serta saudara dan sahabat yang harus menerima kenyataan bahwa orang yang mereka cintai tidak akan pernah kembali.


Tragedi tersebut juga memunculkan pertanyaan besar mengenai aspek keselamatan dalam pelaksanaan kegiatan balap mobil tersebut.


Dugaan bahwa SOP keselamatan dan kelayakan pelaksanaan balap belum memenuhi standar yang semestinya kini menjadi sorotan publik. Apalagi, kegiatan balap berlangsung di jalur yang bersinggungan langsung dengan ruang publik dan melibatkan penonton dalam jumlah besar.


Pertanyaan pun bermunculan.


Apakah lintasan telah benar-benar memenuhi standar keselamatan?


Apakah jarak antara kendaraan balap dengan penonton telah diperhitungkan secara matang?


Apakah tersedia pembatas atau pengaman yang mampu menahan kendaraan apabila terjadi kecelakaan?


Bagaimana sistem pengamanan penonton?


Bagaimana kesiapan petugas medis dan ambulans?


Apakah seluruh risiko telah melalui kajian dan mitigasi sebelum kegiatan dilaksanakan?


Dan yang paling penting, siapa yang bertanggung jawab apabila standar keselamatan ternyata tidak terpenuhi?


Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak boleh berhenti sebagai perdebatan di media sosial. Semua harus dijawab melalui penyelidikan yang transparan, profesional dan dapat dipertanggungjawabkan.


Sebab, delapan nyawa manusia bukanlah angka.


Di balik angka tersebut ada wajah, nama, keluarga, cita-cita dan kehidupan yang seharusnya masih panjang.


Masyarakat tentu tidak ingin tragedi serupa kembali terjadi hanya karena aspek keselamatan dianggap sebagai sesuatu yang bisa dikesampingkan demi sebuah kegiatan hiburan.


Jalan A.P. Mokoginta juga menjadi bagian penting dari persoalan ini. Ruas jalan yang belum lama mendapat perhatian pemerintah melalui perbaikan infrastruktur seharusnya menjadi sarana yang memberikan manfaat bagi masyarakat, bukan justru menjadi lokasi yang meninggalkan kenangan paling pahit bagi keluarga korban.


Kini, ketika lilin-lilin dinyalakan, suasana berubah menjadi hening.


Tidak ada suara mesin yang meraung.


Tidak ada sorak-sorai penonton.


Tidak ada tepuk tangan.


Yang tersisa hanya tangisan keluarga dan doa untuk mereka yang telah pergi.


Lilin itu seolah berkata: delapan nyawa telah pergi, jangan biarkan pengorbanan mereka berlalu tanpa pelajaran.


Tragedi ini seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi seluruh proses penyelenggaraan kegiatan otomotif di ruang publik, mulai dari perizinan, kelayakan lokasi, standar lintasan, pengamanan penonton, kesiapan medis, hingga koordinasi antara panitia, pemerintah dan aparat keamanan.


Jika nantinya penyelidikan menemukan adanya kelalaian atau pelanggaran terhadap ketentuan keselamatan, maka proses hukum harus dilakukan secara tegas dan transparan sesuai aturan yang berlaku.


Namun jika tidak ditemukan pelanggaran, seluruh pihak juga berhak mendapatkan penjelasan yang terang agar tidak muncul spekulasi di tengah masyarakat.


Yang terpenting, jangan sampai setelah lilin padam, perhatian terhadap keselamatan juga ikut padam.


Keluarga korban membutuhkan keadilan. Masyarakat membutuhkan kepastian. Dan pemerintah serta penyelenggara kegiatan membutuhkan evaluasi menyeluruh agar tragedi seperti ini tidak kembali terjadi.


Karena pada akhirnya, sebuah kegiatan olahraga dan hiburan seharusnya menghadirkan kegembiraan, bukan meninggalkan deretan pusara.


Hari ini lilin dinyalakan untuk mengenang delapan nyawa. Semoga cahaya kecil itu menjadi pengingat besar bahwa keselamatan manusia harus selalu ditempatkan di atas segala bentuk hiburan, gengsi dan kepentingan acara.


Al-Fatihah untuk para korban. Semoga mereka mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan.(R01)

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl