Saat Masalah Struktural Diobati dengan Solusi Kosmetik dan Retorika
REAL NEWS ONE - Jakarta Beredar sebuah daftar. Bukan daftar prestasi. Tapi daftar ironi. Isinya menampar : setiap kali negara punya masalah, resepnya selalu sama. `Beban ditimpakan ke rakyat.`
Kami Rakyat bersama di `REAL NEWS ONE` tidak sedang marah. Kami sedang membedah. Karena bangsa ini butuh nalar, bukan hanya emosi.
Logika Terbalik Penyakit Di Atas, Obatnya Di Bawah`:
APBN minus` Resepnya `Naikkan pajak rakyat`. Artinya Kebocoran di atas tidak dibereskan. Yang disuruh mengencangkan ikat pinggang yang di bawah alias Rakyat.
Pejabat korup`Resepnya Naikkan gaji. Artinya Kejahatan dibayar lebih mahal agar berhenti. Sejak kapan maling berhenti mencuri karena gajinya naik ?
Jual beli hukum Resepnya 'Naikkan gaji hakim 300%`Artinya Keadilan diakui bisa dibeli. Maka kita tawar lebih tinggi.
Ini bukan strategi pemberantasan. Ini `Akad Kerja Sama Dengan Kejahatan`.
Logika Menghibur Masalah Akar, Solusinya Daun``Ekonomi lesu` Resepnya `Bangun Kopdes.
Konsep bagus. Tapi di lapangan ? Dana rawan jadi `arisan keluarga` dan `jatah timses`. Tanpa pengawasan ketat, Kopdes hanya ganti nama korupsi.
Anak tidak cerdas Resepnya `MBG` Mengenyangkan perut itu wajib. Tapi bagaimana dengan guru yang gajinya tak layak ? Sekolah yang atapnya bocor ? Kurikulum yang ganti tiap menter i?
Program diluncurkan. Foto-foto beredar. Tapi `akar masalah` tetap kita kubur dalam-dalam. Kesejahteraan guru rendah Resepnya `Ikhlas`. Ikhlas itu untuk ibadah. Untuk dapur, guru butuh gaji.
Jalan rusak`Resepnya `Swadaya masyarakat`Kami sudah bayar PPN, PBB, Pajak Kendaraan. Kapan giliran negara yang swadaya untuk kami ?
Kemiskinan naik`Resepnya`Ganti indikator. Paling mudah. Kemiskinan tidak diselesaikan. Hanya dihapus dari Power Point.
Harga naik` Resepnya 'Diminta berhemat .Yang naik tunjangan. Yang disuruh puasa rakyat. Indonesia suram` Resepnya `Pindah negara.
Kalimat ini paling kejam. Seolah-olah cinta tanah air adalah privilege orang kaya. Bangsa ini tidak kekurangan program. Bangsa ini kekurangan `Keberanian`. Berani menyentuh 3 penyakit kronis:
Korupsi. Nepotisme. Pemborosan.`
Selama koruptor cukup dihukum dengan `kenaikan gaji`. Selama proyek negara dibagi seperti `kue ulang tahun keluarga dan timses`. Selama hukum masih bisa `dibeli, dinego, dan ditunda`.
Maka daftar ironi ini akan terus bertambah. Dan rakyat akan terus jadi pasien yang disuruh bayar obatnya sendiri. Rakyat Hanya Minta 2 Hal: Yang Salah Dihukum Setimpal. Yang Bekerja Benar Dibayar Layak.`
Jika ada yang tersinggung membaca ini, bagus. Berarti nurani Anda masih bekerja. Malulah. Bukan Kepada Kami. Tapi Kepada Cermin Dan Sejarah.`
Penulis : Redaksi RNO
Media-Penjaga Nalar Kritis


