REAL NEWS ONE - majalengka, Di saat negara meminta seluruh elemen merapatkan ikat pinggang, ada yang justru memilih mengendurkan tali sepatu untuk berjalan-jalan.
Di saat anggaran efisiensi diputuskan demi menyelamatkan layanan dasar rakyat, ada yang diduga memakai nama lembaga untuk berwisata.
Berita tentang dugaan Direktur dan staf RSUD Cideres Majalengka yang tidak masuk kerja dan melakukan tour ke Pangandaran di tengah polemik efisiensi anggaran, bukan sekadar berita pelanggaran disiplin.
Ini adalah pengkhianatan terhadap makna “pelayanan publik”.
RSUD adalah tempat orang datang membawa harapan terakhir.
Ruang IGD tidak mengenal hari libur, ruang operasi tidak bisa menunggu jadwal tour selesai.
Ketika pemimpin rumah sakit absen tanpa alasan yang layak, yang hilang bukan hanya tanda tangan absensi. Yang hilang adalah nyawa kepercayaan publik.
Ini bukan soal Pangandaran. Pantainya indah, wajar jika ingin ke sana.
Ini soal waktu, tempat, dan tanggung jawab.
Etika pejabat publik diukur bukan saat semua berjalan mulus, tetapi saat negara meminta berkorban.
Kalau benar terjadi, maka ini tamparan telak bagi dunia birokrasi kesehatan Jawa Barat.
Tamparan yang membuat intelektual berdecak kecewa, membuat negarawan menggeleng prihatin, dan membuat rakyat kecil bertanya: “Untuk siapa sebenarnya rumah sakit Cideres ini dibangun?”
Seorang pemimpin yang layak disebut negarawan tidak akan membiarkan ruang abu-abu.
Ia akan memilih transparansi, pertanggungjawaban, dan sanksi jika perlu.
Karena kredibilitas institusi lebih mahal dari satu kali perjalanan.
Masyarakat Majalengka tidak butuh klarifikasi basa-basi.
Mereka butuh bukti bahwa uang rakyat, waktu rakyat, dan nyawa rakyat dihargai lebih tinggi dari sekadar foto di pantai.
Jika tidak, maka efisiensi anggaran akan menjadi lelucon pahit.
Negara berhemat, pejabat berwisata. Rakyat menanggung akibatnya.
Redaksi RNO
Oleh kang oby kresna.


