Gambar

Gambar

Iklan

Ketika Akademisi Menjadi Kompas Pendidikan Jawa Barat.

Redaksi one
Senin, 25 Mei 2026
Last Updated 2026-05-25T13:58:29Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini


REAL NEWS ONE- Bandung Pendidikan Jawa Barat tidak pernah kekurangan retorika. Di setiap rapat, seminar, dan pidato, kita selalu mendengar kata “transformasi”, “merdeka belajar”, dan “Jabar Istimewa”. Tapi kata-kata tanpa arah akan berakhir sebagai gema di ruang rapat. Yang kita kekurangan hari ini adalah nahkoda yang paham betul bahwa ruang kelas adalah medan pertempuran paling senyap untuk masa depan sebuah peradaban.


Di tengah hiruk pikuk debat kompetensi dan perebutan kursi, satu nama muncul tanpa perlu pengeras suara. Namanya tidak dilempar lewat spanduk atau tagar. Ia hadir karena jejak kerjanya yang lebih dulu berbicara: Dr. H. Toto Warsito, M.Ag.


Akademisi yang Turun ke Lapangan


Toto Warsito bukan tipe pemimpin yang baru mengenal dunia pendidikan setelah dilantik. Ia sudah lama hidup di dalamnya. Dari bangku kuliah tempat ia mengasah nalar, sampai forum musyawarah guru mata pelajaran tingkat provinsi tempat ia menimbang etika, hingga ruang kebijakan tempat ia menerjemahkan gagasan menjadi keputusan.


Gelar M.Ag di belakang namanya bukan sekadar simbol keilmuan agama. Itu tanda bahwa setiap kebijakan yang ia sentuh punya fondasi moral dan filsafat. Ia tidak memisahkan ilmu dari akhlak, tidak memisahkan kebijakan dari keberpihakan.


Layak ? Sudah Teruji.


Pengalaman Toto tidak berhenti di level wacana. Ia sudah menguji gagasannya di lapangan. Dari tata kelola pendidikan keagamaan yang menuntut keseimbangan antara tradisi dan mutu, sampai upaya menyinergikan madrasah dengan sekolah umum yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.


Ia memahami satu hal yang sering diabaikan birokrasi: pendidikan Jawa Barat terlalu beragam untuk dipukul rata. Ada siswa di perkotaan yang butuh akses teknologi, ada anak di pelosok yang butuh guru yang mau tinggal. Ada madrasah yang menjaga hafalan, ada SMK yang mengejar link and match dengan industri. Keadilan pendidikan, bagi Toto, berarti memberi ruang bagi keberagaman itu tanpa menurunkan standar mutu dan karakter.


Teruji? Sudah Terbukti.


Di saat banyak pemimpin pendidikan sibuk mengejar proyek dan seremoni, Toto memilih jalur yang lebih sunyi. Sebagai kepala sekolah terbaik nasional dan juara satu PNS Berprestasi Jawa Barat yang kini memimpin salah satu sekolah ternama, ia tidak membangun citra. Ia membangun ekosistem.


Ia memperkuat guru, bukan hanya lewat pelatihan, tapi lewat ruang untuk didengar. Ia memastikan kebijakan tidak berhenti di meja rapat dengan tumpukan notulen. Ia kawal sampai ke ruang kelas, sampai ke meja siswa, sampai ke sikap guru saat mengajar hari Senin pagi.


Itu sebabnya banyak guru menyebut namanya tanpa perlu disebut. Banyak siswa merasakan dampak kebijakannya tanpa tahu siapa penggagasnya. Dan itu, dalam dunia pendidikan, adalah bentuk keberhasilan yang paling jujur.


Kompas, Bukan Peta Kekuasaan


Jawa Barat hari ini butuh Kepala Dinas Pendidikan yang bisa menerjemahkan visi besar “Jabar Istimewa” ke dalam bahasa yang dimengerti guru honorer di Ciamis yang gajinya belum layak. Ke dalam bahasa siswa SMK di Bekasi yang ingin langsung kerja setelah lulus. Ke dalam bahasa orang tua di Cianjur yang hanya ingin anaknya tidak putus sekolah.


Bukan bahasa birokrasi yang indah di atas kertas tapi asing di lapangan.


Toto membawa itu semua. Ia membawa gabungan antara intelektualitas akademisi, ketajaman analisis kebijakan, dan kejernihan moral seorang negarawan. Ketika ia bicara tentang kurikulum, yang terdengar bukan jargon. Yang terdengar adalah arah. Ketika ia bicara tentang guru, yang terasa bukan formalitas. Yang terasa adalah keberpihakan.


Karena itu, tidak berlebihan jika para intelektual, praktisi pendidikan, dan pegiat kebijakan di Jawa Barat mulai berdecak kagum. Untuk pertama kalinya, kita melihat sosok yang layak disebut kompas. Bukan kompas untuk mencari arah kekuasaan, tapi kompas untuk mengembalikan pendidikan pada tujuan asalnya: memanusiakan manusia.


Jabar 2029 Tidak Butuh Eksperimen


Tantangan pendidikan Jawa Barat lima tahun ke depan tidak ringan. Kesenjangan mutu antar daerah masih lebar. Angka putus sekolah di daerah 3T masih tinggi. Guru masih bergulat dengan administrasi. Siswa masih bingung antara mengejar ijazah atau keterampilan.


Jawa Barat tidak butuh pemimpin pendidikan yang mau coba-coba. Jawa Barat butuh kepemimpinan pendidikan yang sudah matang, teruji, dan berpihak.


Dan barangkali, nama itu sudah ada di depan kita.


Dr. H. Toto Warsito, M.Ag.


Bukan karena ia paling keras bersuara. Tapi karena ia paling konsisten bekerja. Bukan karena ia paling pandai berjanji. Tapi karena ia paling paham bahwa pendidikan bukan proyek lima tahunan. Pendidikan adalah investasi untuk seratus tahun ke depan.


Di saat Jawa Barat mencari arah, mungkin inilah kompas yang selama ini kita tunggu.**

RNO

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl