Oleh: Dr. H. Toto Warsito, S.Ag., M.Ag., CT
Menjadi Mojang Pinilih bukan sekadar perkara mahkota, busana, senyum, atau kemampuan tampil di atas panggung. Di balik gelar itu terdapat tanggung jawab yang jauh lebih besar: menjadi wajah daerah, membawa pesan kebudayaan, memperkenalkan potensi pariwisata, sekaligus menunjukkan bahwa generasi muda Jawa Barat mampu berdiri dengan identitasnya sendiri.
Sosok Tresna Wineka Eriska, perwakilan Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka, menjadi menarik untuk dilihat dari perspektif tersebut. Dalam Pasanggiri Mojang Jajaka Kabupaten Majalengka 2024, Tresna terpilih sebagai Mojang Pinilih. Ajang itu kembali digelar setelah tiga tahun vakum dan mengusung semangat “Muda, Kreatif dan Berbudaya”.
Pilihan tersebut sesungguhnya menyampaikan pesan penting. Mojang zaman sekarang tidak cukup hanya “geulis” dalam pengertian fisik. Ia harus masagi—memiliki wawasan, karakter, kemampuan komunikasi, kepedulian sosial, serta memahami akar budaya dan potensi daerahnya.
Hal itu pula yang menjadi roh Pasanggiri Mojang Jajaka Majalengka. Proses penilaian tidak hanya berkaitan dengan penampilan, tetapi mencakup wawasan umum, pengetahuan kepariwisataan, budaya, serta pemahaman terhadap Majalengka. Dengan demikian, pasanggiri sejatinya merupakan proses menemukan duta muda yang memiliki kapasitas untuk memperkenalkan daerahnya secara lebih luas.
Dari Mahkota Menuju Pengabdian
Yang menarik dari perjalanan Tresna adalah bagaimana gelar Mojang Pinilih tidak berhenti sebagai prestasi personal.
Ia kemudian mengembangkan gagasan Dahayu Sentosa, sebuah gerakan yang berfokus pada pembangunan destinasi wisata yang aman, tangguh terhadap bencana, dan berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat lokal. Gagasan itu mempertemukan berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, BPBD, perguruan tinggi hingga kelompok sadar wisata.
Di titik inilah makna seorang duta daerah menjadi semakin substantif.
Pariwisata tidak cukup hanya dipromosikan agar viral. Destinasi yang ramai dikunjungi juga harus aman, nyaman, tertata, dan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Pandangan tersebut penting bagi Majalengka. Kabupaten yang memiliki kekayaan alam, budaya, kuliner, kerajinan, serta bentang alam yang beragam membutuhkan generasi muda yang tidak hanya menjadi promotor, tetapi juga problem solver.
Mojang dan Jajaka semestinya hadir bukan sekadar dalam agenda seremonial pemerintah daerah. Mereka dapat menjadi komunikator publik yang mampu menerjemahkan potensi daerah ke dalam bahasa generasi digital.
Identitas Sunda di Tengah Globalisasi
Ada tantangan lain yang tidak kalah penting: bagaimana generasi muda tetap memiliki identitas ketika dunia semakin terbuka.
Majalengka merupakan bagian dari kebudayaan Sunda. Karena itu, kemajuan tidak seharusnya membuat generasi mudanya tercerabut dari akar budaya. Justru sebaliknya, budaya lokal harus menjadi sumber kreativitas baru.
Di sinilah konsep masagi menemukan relevansinya. Modern tetapi tidak kehilangan akar. Terbuka terhadap dunia tetapi tetap mengenal jati dirinya. Mampu menggunakan teknologi tetapi tidak meninggalkan etika.
Tresna menunjukkan bahwa generasi muda daerah dapat bergerak dalam dua ruang sekaligus: ruang akademik dan ruang pengabdian sosial. Ia menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Indonesia sekaligus mengembangkan kepedulian terhadap isu keselamatan pariwisata di tanah kelahirannya.
Model seperti inilah yang sesungguhnya dibutuhkan Jawa Barat.
Mojang Pinilih sebagai Duta Perubahan
Ketika seorang Mojang Pinilih mewakili Majalengka ke tingkat Jawa Barat, yang dibawa bukan hanya nama pribadi. Di pundaknya terdapat identitas daerah.
Ia membawa cerita tentang Majalengka. Tentang budaya. Tentang masyarakat. Tentang destinasi wisata. Tentang kreativitas anak muda. Dan yang tidak kalah penting, tentang harapan bahwa daerah mampu melahirkan generasi yang berkarakter sekaligus berprestasi.
Karena itu, keberhasilan seorang Mojang Pinilih seharusnya tidak diukur dari seberapa banyak panggung yang ia datangi, tetapi dari seberapa jauh keberadaannya memberikan manfaat.
Mahkota akan dilepas. Selempang suatu saat akan disimpan. Masa jabatan pun akan berakhir.
Tetapi gagasan dan pengabdian dapat terus hidup.
Barangkali inilah makna paling dalam dari perjalanan Tresna: bahwa kecantikan seorang Mojang tidak berhenti pada wajah yang enak dipandang, melainkan tumbuh dari pikiran yang terbuka, hati yang peduli, karakter yang kuat, dan tindakan nyata bagi daerah.
Dari Majalengka untuk Jawa Barat, Mojang Pinilih seharusnya bukan sekadar gelar.
Ia adalah duta budaya, duta pariwisata, sekaligus duta perubahan generasi muda.


