masukkan script iklan disini
Oleh : kakang oby kresna
REAL NEWS ONE - Majalengka.Di era semua orang pintar berkomentar dari balik layar HP...
Muncul seorang lelaki yang memilih turun dari kursi empuk dewan, lalu menginjakkan sepatunya di aspal retak Munjul–Ciandeu.
Itu Kang Iing. Ketua Komisi III DPRD Majalengka.
Bagi sebagian orang, 398 Juta itu hanya angka di kertas APBD.
Bagi Kang Iing, itu keringat bapak tani Munjul, keringat ibu jualan di Ciandeu.
Itu "amanah" yang tidak boleh retak, sama seperti jalan yang harusnya mulus.
"Anggaran ini uang rakyat. Perhatian masyarakat kini jauh lebih besar."
Satu kalimat itu saja sudah cukup membuat para pelaksana proyek menunduk.
Bukan karena takut. Tapi karena malu... malu jika integritasnya kalah dari seorang dewan yang rela kepanasan demi "Majalengka Langkung Sae".
Kang Iing tidak berteriak. Beliau tidak menghakimi.
Beliau hanya datang, melihat, mencatat, lalu menegaskan
"Jangan sampai 2026 ada lagi pengerjaan asal-asalan."
Itu bukan ancaman. Itu adalah puisi paling tegas tentang tanggung jawab.
Puisi yang hanya bisa dilafalkan oleh orang yang hatinya selaras dengan visi Bupati.
Di tengah gempuran harga material yang naik, beliau tidak mencari alasan.
Beliau mencari "jalan tengah". Karena beliau tahu.
"Jalan rakyat boleh naik-turun, tapi kualitas jalan rakyat tidak boleh turun.
Kang Iing mengajari kita arti "pengawasan" yang sesungguhnya.
Bukan mengawasi dari ruang rapat ber-AC.
Tapi mengawasi dari titik retak paling kecil di badan jalan.
Hari ini saya sebagai warga biasa hanya bisa menunduk hormat.
Hormat kepada seorang wakil rakyat yang membuktikan
"Kursi dewan itu bukan singgasana. Kursi dewan itu adalah tangga... untuk turun melihat dan mengangkat harkat rakyatnya."
Nuhun Kang Iing.
Nuhun karena telah membuat kata "DPRD" kembali punya wibawa di mata kami.
Nuhun karena telah membuat kami percaya lagi masih ada dewan yang bekerja, bukan hanya bersuara.
Wahai para pelaksana proyek 2026...
Jika kalian membaca ini, maka ingatlah:
Di Majalengka, ada mata yang tidak tidur. Ada hati yang tidak bisa dibeli.
Namanya: Komisi III, pimpinannya: H. Iing Misbahuddin.
"Majalengka Langkung Sae"bukan sekadar slogan.
Selama ada Kang Iing yang turun ke lapangan... slogan itu akan jadi kenyataan.
Redaksi RNO


