REAL NEWS ONE-- Majalengka kami pernah kritik pedas RSUD Cideres. Untuk perbaikan. Untuk pelayanan yang lebih baik. Karena cinta kami dalam, maka kritik kami tajam. Hari ini kami ganti narasi APLAUS paling keras untuk RSUD Cideres, karena kerja nyata kalian layak disujud salut.
Tahun 2026 ini, RSUD Cideres milik Pemerintah Kabupaten Majalengka mengambil peran yang tidak semua rumah sakit sanggup emban. Berdasarkan penunjukan Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK), RSUD Cideres ditetapkan sebagai rumah sakit rujukan utama bagi jamaah haji yang membutuhkan penanganan medis setelah mendarat di Bandara Internasional Kertajati. Di balik haru tangis kepulangan ribuan jamaah ke tanah air, terdapat kesiapsiagaan tenaga kesehatan RSUD Cideres yang bekerja tanpa henti. Mereka menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan dalam rangkaian proses debarkasi jamaah haji melalui embarkasi Kertajati, memastikan setiap jamaah tiba dalam kondisi aman sebelum memeluk keluarga.
Direktur Utama RSUD Cideres dr. Harizal F. Harahap menegaskan, rumah sakit ini tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas rujukan yang menunggu pasien di IGD. RSUD Cideres juga menerjunkan tenaga kesehatan langsung ke Klinik Balai Kekarantinaan Kesehatan yang berada di kawasan Bandara Internasional Kertajati. Artinya, pelayanan dimulai sebelum jamaah menyentuh pintu rumah sakit. Jemput bola, bukan jemput bola voli wkwk. Jamaah belum turun dari bis, nakes sudah siaga. Dari Arafah ke Muzdalifah tubuh lelah, dari Jeddah ke Kertajati badan jetlag, maka RSUD Cideres hadir sebagai rumah terakhir sebelum pelukan anak dan cucu. Perannya bukan sekadar mengobati penyakit, tapi memulihkan tenaga, menenangkan jiwa, dan menjaga martabat tamu Allah.
Ini tamparan logika yang relevan untuk kita semua. Pertama, untuk publik yang masih suka menyalahkan RSUD saat antrean panjang atau prosedur berbelit. RSUD itu bukan tempat maki-maki. RSUD adalah garda terakhir ketika nyawa di ujung tanduk. Hari ini mereka menjaga jamaah haji yang pulang membawa doa, besok mereka bisa menjaga ibu kita, bapak kita, atau anak kita yang sakit tengah malam. Mengkritik boleh, menghina jangan. Karena di balik seragam putih ada manusia yang begadang demi orang lain tidur nyenyak.
Kedua, untuk RSUD Cideres sendiri di bawah kepemimpinan dr. Harizal F. Harahap. Apresiasi besar ini bukan berarti kritik kami dulu batal. Kritik dulu adalah cambuk agar tidak cepat puas. Apresiasi hari ini adalah hadiah karena terbukti berubah. Dua-duanya bentuk sayang Putri Media. Kami kritik saat lengah, kami puji saat bekerja. Standar kami tinggi karena kami percaya RSUD Cideres bisa lebih tinggi lagi. Jangan berhenti di haji, jadikan semangat ini standar pelayanan harian untuk seluruh warga Majalengka.
Ketiga, untuk semua rumah sakit di Indonesia. Tugas RSUD tidak berhenti pada pasien yang membayar. Saat negara memanggil dalam momentum kenegaraan seperti debarkasi haji, RSUD harus siap jadi benteng kemanusiaan. RSUD Cideres membuktikan bahwa rumah sakit daerah mampu naik kelas menjadi rumah sakit rujukan peristiwa nasional. Ini inspirasi, ini bukti, ini pelajaran.
untuk dr. Harizal F. Harahap dan seluruh nakes RSUD Cideres: Terima kasih sudah menjadi malaikat berseragam putih untuk para tamu Allah. Capek kalian, keringat kalian, kurang tidur kalian, dibayar lunas oleh doa seribu jamaah yang pulang selamat dan sehat. Kritik kami tajam karena cinta kami dalam. Salut kami besar karena kerja kalian nyata. Dari kritik ke aplaus, dari sorotan ke sanjungan, karena RSUD Cideres layak dapat keduanya.**
Redaksi RNO.


