Oleh : Kang Oby Kresna - RNO.
Foto yang melintas sore ini di grup-grup wartawan nasional itu memang menghentikan jempol untuk tidak scroll.
Seorang Rocky Gerung. Peci hitam rapi. Jas biru dongker. Menunduk khidmat dalam barisan negarawan di Istana Negara. Bukan lagi potret Rocky di atas panggung diskusi atau di depan kamera YouTube.
Hari ini, Jumat (2/10/2026), Presiden Prabowo Subianto resmi melantiknya sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).
Dan satu kalimatnya sesaat setelah pelantikan langsung jadi bahan perbincangan: "Saya akan tetap kritis, tapi dari dalam."
Sebuah janji yang terdengar gagah, tapi sesungguhnya sangat berat, Bung.
RNO mencatat, selama ini kritis dari luar adalah pekerjaan yang relatif mudah. Panggung tersedia di mana-mana, mikrofon selalu menyala, dan tepuk tangan publik selalu riuh setiap silet logika itu dimainkan.
Namun kritis dari dalam adalah ujian yang sama sekali berbeda levelnya.
Dulu, kritik itu dilontarkan dari seberang jalan, bapak di istana hanya mendengar gaungnya. Hari ini bapak sudah menarik kursinya, mempersilakan duduk satu meja. Artinya, setiap kritik harus diucapkan sambil menatap langsung mata bapak.
Inilah _radical break_ yang sesungguhnya.
Langkah Presiden Prabowo kali ini patut diacungi jempol. Sangat cerdas dan sangat negarawan. Beliau tidak memilih membungkam sang kritikus. Beliau memilih memuliakannya. Diberi kursi, diberi peci, dan diberi mandat etik yang tidak ringan: menjaga arah mata angin Republik agar tidak oleng.
Maka tamat sudah satu babak. Tamat sudah peran sebagai pengamat yang bebas berteriak dari luar pagar. Kini babak baru dimulai, sebagai penjaga etika di dalam pagar Istana.
Ketika sudah resmi menjadi bagian dari rumah besar ini, tentu aturannya ikut berubah. Jika dahulu narasi intelektual itu menjadi amunisi di ruang publik, kini narasi itu harus menjadi nutrisi bagi kebijakan negara. Tidak ada lagi ruang untuk melempar wacana liar ke luar, karena mulai hari ini setiap kata yang keluar adalah cerminan Istana itu sendiri.
Janji untuk "tetap kritis di dalam" itulah yang kini ditunggu oleh rakyat.
Kita akan lihat bersama, apakah ketajaman itu akan tetap setajam silet, atau justru menjelma menjadi bisikan etik yang menyejukkan, yang meluruskan ketika bapak hendak salah melangkah.
Selamat datang di dalam, Bung Rocky Gerung. Selamat bertugas. RNO menanti pembuktian bahwa kritis dari dalam jauh lebih sulit, jauh lebih berwibawa, dan jauh lebih dibutuhkan bangsa daripada sekadar kritis dari luar.
Editor: Tim Redaksi RNO
Kolom Tajam RNO adalah rubrik opini suara rakyat Nalar bangsa editorial. Isinya murni pandangan Redaksi REAL NEWS ONE

