MAJALENGKA, RNO — Waktu malam hari tidak menjadi halangan bagi Masyarakat Peduli Api (MPA) Paguyuban Silihwangi Majakuning untuk bergerak cepat memadamkan kebakaran hutan. Pada Jumat (18/09/2026), dua titik kebakaran di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) berhasil ditangani berkat semangat gotong royong serta kolaborasi lintas instansi.
Ketua MPA Paguyuban Silihwangi Majakuning, H. Nandar Juniar Arif, S.Hut., menjelaskan bahwa penanganan darurat ini dilakukan di dua lokasi berbeda yang membutuhkan respons cepat di lapangan.
Penanganan di Dua Titik Lokasi Kebakaran
- Titik Pertama: Situ Sangiang – Blok Pemujaan
Sebanyak 30 personel MPA bersama Pemerintah Desa Sangiang, TNI, dan Polri bergerak sejak pukul 17.00 WIB. Api berhasil dipadamkan pada pukul 21.00 WIB dan dilanjutkan dengan proses mop-up (pendinginan) menggunakan peralatan seadanya untuk memastikan api benar-benar padam dan tidak menyala kembali.
- Titik Kedua: Blok Grohol – Desa Sunia Baru (Kawasan TNGC)
Sebanyak 50 personel MPA yang berasal dari Desa Sunia Baru, Sunia, Gunung Wangi, dan Gunung Sirah bersama petugas TNGC, TNI, Polri, serta Pemerintah Desa langsung bergerak melakukan pemadaman begitu informasi diterima pada pukul 23.00 WIB.
Menurut H. Nandar, keberadaan masyarakat di sekitar kawasan hutan memegang peranan yang sangat vital dalam melakukan deteksi dini terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
"Ketika ada titik api, mereka yang paling awal tahu. Karena itu sejak 2021 kami selalu ikut mengantisipasi karhutla, aktif mendukung patroli TNGC, dan merawat sekat bakar," ungkap Nandar.
Swadaya dan Kekuatan Anggota di Lapangan
Nandar mengungkapkan bahwa keterbatasan peralatan pada awal pembentukan MPA di tahun 2021 justru memicu semangat swadaya yang tinggi di tengah masyarakat. Berbekal pengalaman memadamkan api secara manual, warga berinisiatif merakit dan menyediakan sarana yang lebih efektif agar dapat menjangkau titik api secara optimal.
Saat ini, Paguyuban Silihwangi Majakuning telah dilengkapi dengan perangkat yang memadai, mulai dari penyemprot punggung (water jet shooter), kendaraan pengangkut air, hingga kendaraan khusus pembawa selang pemadam untuk menembus medan sulit yang memiliki sumber air seperti embung.
"Harapan kami kebakaran jangan sampai terjadi lagi. Tetapi antisipasi harus dilakukan sejak dini. Kalau titik api masih sedikit, harus cepat ditangani karena kalau sudah menyebar akan berbeda ceritanya dan jauh lebih sulit dipadamkan," tegas Nandar.
MPA Paguyuban Silihwangi Majakuning sendiri berakar dari Kelompok Tani Hutan (KTH) yang dibentuk pada tahun 2021 dalam kerangka kemitraan konservasi Taman Nasional Gunung Ciremai. Selain berfokus melindungi kawasan, kelompok ini konsisten menjalankan fungsi pengawetan dan pemanfaatan hutan secara berkelanjutan. Tercatat, jumlah anggota KTH yang tersebar di berbagai desa penyangga Ciremai kini telah mencapai 1.076 orang yang mencakup wilayah Kabupaten Kuningan hingga Majalengka.
Melalui sinergi ini, peran serta warga tidak hanya diandalkan dalam pemadaman api, tetapi juga secara konsisten menjaga keseimbangan ekosistem melalui kegiatan konservasi dan penanaman pohon.
Sumber: MPA Paguyuban Silihwangi
Editor: Tim Redaksi RNO

