Therealnewsone.id /KOTAMOBAGU — Sosok AKBP Abdul Kholik, S.H., S.I.K., M.A.P. kini menjadi perhatian masyarakat Kota Kotamobagu setelah resmi mengemban amanah sebagai Kapolres Kotamobagu sejak 13 Juli 2026. Ia menggantikan AKBP Irwanto yang sebelumnya memimpin jajaran Polres Kotamobagu.
Memasuki awal masa tugasnya, Abdul Kholik langsung dihadapkan pada situasi yang tidak ringan. Tragedi drag race di Kelurahan Upai, Kecamatan Kotamobagu Utara, yang menimbulkan korban jiwa dan luka-luka menjadi salah satu ujian besar di awal kepemimpinannya.
Namun, bagi Abdul Kholik, setiap ujian dalam kehidupan harus dihadapi dengan keikhlasan, kesabaran, sekaligus ikhtiar. Ia memandang bahwa ujian bukan semata-mata sesuatu yang harus ditakuti, tetapi dapat menjadi jalan bagi manusia untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
“Secara makna hakiki, ketika kita mendapatkan ujian, bisa jadi Allah SWT sedang mengangkat derajat kita sebagai manusia. Semua harus kita terima dengan ikhlas, karena Allah tidak akan menguji manusia di luar batas kemampuannya,” demikian pesan yang disampaikan Abdul Kholik.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa menerima ujian dengan ikhlas bukan berarti manusia hanya pasrah tanpa melakukan usaha.
Menurutnya, ikhtiar tetap menjadi bagian penting dalam menjalankan kehidupan dan amanah. Manusia harus berusaha semaksimal mungkin sesuai kemampuan yang dimiliki.
“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum selain kita juga harus berusaha,” ujarnya.
Jumat Keliling, Mendekatkan Polisi dengan Masyarakat
Salah satu program yang menjadi perhatian Abdul Kholik dalam menjalankan tugasnya adalah Jumat Keliling, Program tersebut bukan sekadar kegiatan keagamaan, tetapi menjadi sarana untuk membangun komunikasi langsung antara kepolisian dengan masyarakat. Dari masjid ke masjid, Abdul Kholik berupaya hadir di tengah warga, melaksanakan kegiatan keagamaan dan sosial sekaligus mendengarkan aspirasi, keluhan serta berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Baginya, seorang pemimpin kepolisian tidak cukup hanya berada di balik meja atau menerima laporan di kantor. Pemimpin harus turun langsung melihat kondisi masyarakat.
Dengan mendatangi masyarakat, polisi dapat mengetahui persoalan secara lebih dekat sekaligus membangun kepercayaan dan hubungan emosional yang lebih kuat antara aparat keamanan dan warga.
Program Jumat Keliling juga diharapkan menjadi ruang komunikasi dua arah. Masyarakat dapat menyampaikan berbagai persoalan keamanan, ketertiban maupun persoalan sosial secara langsung kepada Kapolres.
Tragedi Upai Menjadi Ujian Awal Kepemimpinan
Belum lama menjabat, Abdul Kholik harus menghadapi tragedi drag race di Kelurahan Upai yang mengguncang masyarakat Kotamobagu dan Bolaang Mongondow Raya.
Peristiwa tersebut menjadi perhatian luas karena menyebabkan korban jiwa dan korban luka-luka.
Sebagai Kapolres yang baru beberapa hari mengemban amanah, tragedi itu tentu menjadi tantangan berat. Namun, Abdul Kholik memilih untuk melihatnya sebagai bagian dari amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Baginya, setiap peristiwa harus dihadapi dengan kepala dingin, berdasarkan fakta, ketelitian dan proses hukum yang berlaku.
Di sisi lain, ia juga mengajak seluruh pihak untuk menjadikan musibah tersebut sebagai bahan introspeksi dan pembelajaran bersama, sehingga kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Menjaga Keseimbangan Jasmani dan Rohani
Dalam menjalankan tugas sebagai anggota Polri sekaligus seorang Muslim, Abdul Kholik memiliki pandangan bahwa kehidupan harus dijalankan secara seimbang.
Menurutnya, manusia merupakan makhluk mulia yang diberikan amanah oleh Allah SWT untuk menjalankan kehidupan di dunia. Ada tanggung jawab sebagai manusia, sebagai bagian dari masyarakat, sebagai pekerja dan pejabat yang mengemban amanah, sekaligus sebagai hamba Tuhan.
Karena itu, kesibukan dalam menjalankan pekerjaan jangan sampai membuat manusia melupakan kewajibannya kepada Tuhan.
“Sembari taat melaksanakan tugas di dunia, mengemban amanah dan tanggung jawab sesuai kapasitas masing-masing, tentu kita juga jangan pernah mengabaikan tugas selaku hamba Allah atau hamba Tuhan sesuai agama dan kepercayaan masing-masing,” ungkapnya.
Menurut Abdul Kholik, keseimbangan antara jasmani dan rohani sangat penting agar kehidupan berjalan dalam harmonisasi.
Seorang aparat penegak hukum harus memiliki keteguhan dalam menjalankan tugas, tetapi juga membutuhkan kekuatan spiritual agar mampu menghadapi berbagai persoalan dengan kesabaran, kebijaksanaan dan hati yang tenang.
Menjadi Manusia yang Bermanfaat
Di balik seragam dan jabatan yang diembannya, Abdul Kholik menempatkan nilai kemanusiaan sebagai bagian penting dalam kehidupan.
Ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya mengejar kepentingan duniawi, tetapi juga berusaha menjadi manusia yang memberikan manfaat bagi orang lain.
“Jadilah manusia yang bermanfaat untuk manusia yang lain,” menjadi salah satu pesan yang menggambarkan pandangannya mengenai kehidupan.
Menurutnya, dunia hanyalah tempat manusia menanam. Sementara akhirat merupakan tempat untuk memetik atau memanen apa yang telah disemai selama hidup.
Karena itu, setiap amanah, pekerjaan, kebaikan dan pengabdian yang dilakukan manusia seharusnya memiliki nilai di hadapan Tuhan.
Bagi seorang anggota Polri, prinsip tersebut dapat diwujudkan melalui pelaksanaan tugas secara profesional, bertanggung jawab, humanis dan tetap berpegang pada aturan.
Amanah Jabatan dan Harapan Masyarakat
Kehadiran Abdul Kholik sebagai Kapolres Kotamobagu tentunya membawa harapan baru bagi masyarakat.
Masyarakat membutuhkan sosok pemimpin kepolisian yang mampu menjaga keamanan, menegakkan hukum secara profesional, sekaligus terbuka terhadap kritik dan aspirasi masyarakat.
Program Jumat Keliling menjadi salah satu langkah untuk membangun kedekatan tersebut.
Sementara tragedi Upai menjadi ujian besar yang harus dijawab melalui kerja profesional, proses penyelidikan yang transparan, serta penanganan berdasarkan fakta dan ketentuan hukum.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Abdul Kholik tampaknya ingin menempatkan tugas kepolisian bukan hanya sebagai pekerjaan, melainkan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan, Sebab pada akhirnya, jabatan adalah amanah yang memiliki batas waktu. Sedangkan kebaikan, pengabdian dan manfaat yang diberikan kepada sesama akan menjadi bagian dari jejak kehidupan seseorang.
Satu jam mengenal Abdul Kholik mungkin belum cukup untuk mengetahui seluruh sosoknya. Namun dari pesan-pesan yang disampaikannya, terlihat satu garis besar: menjalankan amanah dengan ikhtiar, menghadapi ujian dengan keikhlasan, mendekatkan diri kepada masyarakat, serta tidak melupakan kewajiban sebagai hamba Tuhan.
Kini masyarakat Kotamobagu tentu menanti bagaimana nilai-nilai tersebut diterjemahkan Abdul Kholik dalam kepemimpinannya sebagai Kapolres Kotamobagu—terutama dalam membangun keamanan, penegakan hukum dan pelayanan publik yang semakin dekat dengan masyarakat. (R01)


