Gambar

Gambar

Sang Putra Rambut Kasih: Ketika Nalar dan Rasa Lapar Turun ke Jalan Menagih Keadilan

Redaksi
Kamis, 27 Agustus 2026
Last Updated 2026-08-27T06:30:04Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini


JAKARTA, 27 AGUSTUS 2026: SAAT NEGARA DIUJI DI ASPAL

Catatan Lapangan

Oleh: Sang Putra Rambut Kasih

RNO Media - "Suara Rakyat, Nalar Bangsa"


JAKARTA, THEREALNEWSONE.ID — Saya tidak datang untuk menghitung jumlah massa. Saya datang untuk menyaksikan sebuah republik sedang diadili di ruang terbuka oleh pemiliknya yang sah: rakyat.


Sejak pukul 05.30 WIB, Jalan Gatot Subroto berhenti menjadi urat nadi ekonomi. Hari ini ia menjelma menjadi palu sidang. Terdakwanya adalah ketidakadilan yang dilembagakan. Saksi-saksinya adalah jutaan warga yang selama ini dipaksa diam, dibungkam, lalu disuruh ikhlas.


Di lokasi, tidak ada panggung megah atau sound system mewah. Yang ada hanya terpal, kardus, dan spidol. Namun, tuntutan mereka mengguncang kubah Senayan:


"SAHKAN SEGERA UU PERAMPASAN ASET KORUPTOR. JATUHKAN HUKUMAN MATI BAGI PERAMPOK UANG RAKYAT."


Perhatikan siapa yang berdiri di sana. Guru yang sertifikasinya macet, buruh yang kontraknya diputus, mahasiswa yang UKT-nya naik, hingga ibu-ibu yang mendapati harga beras tak pernah kenal kata turun. Mereka tidak menerima amplop; mereka datang karena sudah tidak ada lagi yang bisa diikhlaskan.


Maka, saya sebagai warga Indonesia turut menitipkan pertanyaan paling sederhana untuk Yang Mulia Pimpinan dan seluruh Anggota DPR RI:

Jika tangan Anda bersih, mengapa Anda gentar pada sapu?

Jika Anda tidak merampok, mengapa Anda takut aset Anda diusut?

Diam Anda hari ini adalah risalah pengadilan rakyat.


Munculnya Dualisme di Lapangan


Dua jam berselang, lahir barisan lain. Seragamnya sama, spanduknya baru, dan fasilitas konsumsinya berlebih. Narasi yang mereka bawa bukanlah solusi, melainkan kabut: "ditumpangi", "disusupi", hingga "jaga stabilitas".


Semalam, tangkapan layar dari sebuah grup percakapan bocor ke meja redaksi kami. Isinya bukan strategi kebangsaan, melainkan daftar hadir, titik kumpul, dan instruksi "meluruskan narasi". Ada nama pejabat, nama ormas, hingga nama rekan pers yang terseret.


Mari gunakan logika paling dasar: Mungkinkah maling meminta rumahnya digeledah? Tentu tidak. Maka, yang akan mereka hadang adalah tangan yang membawa senter, yaitu rakyat.


Urgensi UU Perampasan Aset dan Jebakan Massa Tandingan


Undang-Undang Perampasan Aset bukan sekadar pasal di atas kertas. Ia adalah cermin besar. Sekali disahkan, ia akan memantulkan semua wajah yang selama ini bersembunyi di balik nama orang tua, istri, hingga perusahaan cangkang.


Rumah, mobil, saham, dan tanah—satu pertanyaan akan mengikutinya: Dari mana asalnya? Itulah sebabnya sebagian pihak lebih sibuk membentuk "massa tandingan" daripada merampas celah korupsi melalui Panitia Kerja.


Kepada para pengamat yang buru-buru melabeli aksi ini "ditunggangi": Tolong sebutkan, siapa yang menunggangi rasa lapar? Siapa yang menunggangi rasa malu? Rakyat ini sudah bertahun-tahun ditunggangi janji politik. Cukup sudah.


Panggilan Nurani untuk Anak Bangsa


Kepada Bapak Presiden, para petinggi negara, pimpinan TNI-Polri, para anggota dewan, tokoh agama, budayawan, seniman, dan seluruh anak bangsa:


Hari ini saya, anak Majalengka, belajar satu hal dari aspal: keberanian itu menular. Dan ketika nalar sudah turun ke jalan, ia tidak akan pulang sebelum ada jawaban.


Rezim boleh punya buzzer, koruptor boleh punya pagar bayaran. Tapi rakyat memiliki satu hal yang tidak bisa dibeli, diintimidasi, maupun dibubarkan: Martabat Bangsa.


Tanggal 27 Agustus 2026 tidak akan tercatat sekadar sebagai hari demonstrasi. Ia akan tercatat sebagai hari ketika rakyat mengingatkan para pemegang kuasa bahwa negara ini didirikan di atas keringat rakyat, dan rakyat berhak menagihnya.


Sumber: Catatan Lapangan RNO Media

Editor: Tim Redaksi RNO

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl