Gambar

Gambar

Dari Ruang Kelas, Sri Intan Hidupkan Aksara Sunda Lewat Inovasi LIGAS

Redaksi
Selasa, 18 Agustus 2026
Last Updated 2026-08-18T13:26:27Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini


MAJALENGKA, THEREALNEWSONE.ID – Kecintaan terhadap budaya Sunda tidak selalu harus diwujudkan oleh seniman atau budayawan. Dari ruang kelas sekolah dasar, seorang guru juga dapat menjadi penggerak pelestarian budaya melalui kreativitas dan inovasi pendidikan.


Hal itu ditunjukkan Sri Intan Gustina, S.Pd., guru SDN Tonjong I Kabupaten Majalengka. Melalui gagasan “Pajajaran Anyar di Sakola”, Sri Intan mengembangkan pembelajaran budaya Sunda, khususnya pengenalan aksara Sunda dan seni tari, kepada peserta didik.


Latar belakangnya sebagai lulusan S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) tidak menghalanginya untuk mengembangkan pembelajaran berbasis budaya. Justru dari ruang kelas, ia berupaya mendekatkan budaya Sunda dengan kehidupan anak-anak.


“Pengenalan budaya kepada anak-anak harus dilakukan dengan pendekatan yang dekat dengan dunia mereka, menyenangkan, sekaligus mampu menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas budaya sendiri,” ujar Sri Intan saat diwawancarai, Selasa (18/8/2026).


Salah satu inovasi yang dikembangkannya adalah Modul LIGAS (Latihan Gancang Aksara Sunda). Modul tersebut dirancang sebagai media pembelajaran untuk membantu peserta didik mengenal, mempelajari, dan mengingat aksara Sunda melalui metode yang lebih sederhana dan menarik.


Menurut Sri Intan, inovasi tersebut lahir dari kepedulian terhadap keberlangsungan budaya Sunda di tengah perubahan zaman.


Upayanya tidak berhenti pada pembelajaran aksara Sunda. Sri Intan juga mengembangkan kegiatan ekstrakurikuler seni tari di SDN Tonjong I. Kegiatan tersebut bahkan dilatih langsung olehnya meskipun dirinya tidak memiliki latar belakang pendidikan seni.


“Melestarikan budaya tidak harus menunggu kita menjadi ahli seni. Sebagai guru, saya percaya bahwa sekolah adalah tempat yang sangat strategis untuk mengenalkan dan menanamkan kecintaan terhadap budaya kepada generasi muda,” ungkapnya.



Dari Sekolah hingga Tingkat Kabupaten


Program LIGAS dan kegiatan seni budaya yang dikembangkan di SDN Tonjong I kemudian mulai dikenal di lingkungan sekolah hingga tingkat kecamatan dan Kabupaten Majalengka.


Sejumlah siswa SDN Tonjong I juga berhasil meraih prestasi dalam bidang aksara Sunda dan seni tari.


Bagi Sri Intan, prestasi tersebut bukan sekadar tentang memenangkan perlombaan. Lebih jauh, capaian siswa menjadi salah satu indikator bahwa pembelajaran budaya yang dilakukan secara konsisten dapat menumbuhkan ketertarikan sekaligus kepercayaan diri anak terhadap budaya daerahnya.


“Prestasi bukan tujuan akhir. Yang paling penting adalah bagaimana anak-anak mengenal budaya Sunda sebagai bagian dari kehidupan mereka, sesuatu yang dekat, menyenangkan, dan layak untuk terus diwariskan,” katanya.


Dedikasi tersebut kemudian mengantarkan Sri Intan menjadi salah satu ASN berprestasi yang mewakili Kabupaten Majalengka untuk melaju ke tingkat Provinsi Jawa Barat.


Capaian itu menunjukkan bahwa inovasi yang lahir dari lingkungan sekolah dapat berkembang menjadi karya yang memberikan nilai tambah bagi pendidikan sekaligus pelestarian budaya daerah.


Kadisdik: Guru Bukan Sekadar Pengajar


Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka, H. Muhamad Umar Ma’ruf, mengapresiasi capaian Sri Intan.


Menurutnya, prestasi tersebut menunjukkan bahwa guru memiliki peran yang lebih luas, bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai penggerak inovasi dan pelestari budaya di lingkungan pendidikan.


“Bu Sri Intan memberikan contoh bahwa guru memiliki peran yang sangat luas. Tidak hanya mengajar di dalam kelas, tetapi juga mampu melahirkan inovasi, mengembangkan potensi peserta didik, sekaligus menjaga nilai-nilai budaya daerah,” ujar Muhamad Umar Ma’ruf.


Ia menilai program Pajajaran Anyar di Sakola sejalan dengan upaya pendidikan dalam membentuk karakter peserta didik yang memiliki kecintaan terhadap daerah dan identitas budayanya.


“Ketika aksara Sunda dan seni budaya dikenalkan sejak sekolah dasar dengan cara yang kreatif, anak-anak tidak hanya belajar keterampilan, tetapi juga belajar mencintai identitas dan warisan budayanya,” katanya.


Menurutnya, keberhasilan Sri Intan menjadi representasi Kabupaten Majalengka di tingkat Provinsi Jawa Barat juga diharapkan dapat memotivasi guru lainnya untuk terus berinovasi.


“Ini menjadi motivasi bagi guru-guru lainnya. Kami berharap semakin banyak pendidik yang berani mengembangkan gagasan dan inovasi sesuai dengan potensi yang ada di sekolah masing-masing. Prestasi seorang guru pada akhirnya akan memberikan dampak positif terhadap peserta didik dan dunia pendidikan secara keseluruhan,” tuturnya.


Merawat Kasundaan dari Sekolah


Bagi Sri Intan, pelestarian budaya tidak dapat dibebankan hanya kepada seniman dan budayawan. Sekolah memiliki posisi strategis karena menjadi ruang tempat generasi muda tumbuh dan membentuk karakter.


Karena itu, pengenalan aksara Sunda, bahasa Sunda, seni tari, dan berbagai nilai budaya sejak sekolah dasar dinilai penting agar budaya tidak sekadar menjadi pengetahuan masa lalu, tetapi tetap hidup dalam keseharian generasi penerus.


“Merawat kasundaan bukan hanya tugas seorang seniman. Ini tanggung jawab bersama. Sekolah adalah salah satu tempat terbaik untuk menanamkan kembali akar budaya kepada generasi penerus,” ungkap Sri Intan.


Perjalanan Sri Intan melalui Pajajaran Anyar di Sakola menjadi gambaran bahwa inovasi pendidikan dapat tumbuh dari kepedulian sederhana seorang guru.


Dari sebuah sekolah dasar di Kabupaten Majalengka, upaya mengenalkan aksara Sunda dan seni budaya kini dibawa ke ruang yang lebih luas hingga tingkat Provinsi Jawa Barat.


Ini bukan semata tentang penghargaan atau kompetisi. Ada pesan yang lebih penting: pelestarian budaya dapat dimulai dari ruang kelas, dari seorang guru, dan dari anak-anak yang belajar mengenal akar budayanya sendiri.


Sri Intan Gustina, S.Pd. menunjukkan bahwa ketika pendidikan dan kebudayaan berjalan beriringan, sekolah tidak hanya mencetak peserta didik yang berpengetahuan, tetapi juga generasi yang mengenal dan menghargai identitas budayanya.


Reporter: Spd
Editor: Agung

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl