Puser Bumi Majalengka: Dari Istana Siluman Ular ke Sumur Roay Karamat.
REAL NEWS ONE - Menurut wejangan Duta Karuhun Ambu Anie, peradaban Sunda "Pajajaran Anyar" tidak akan tegak berdiri sebelum ada perpindahan besar: "Ti Kere ka Bale".
"Ti Kere" bukan sekadar nama tempat. Itu simbol. Dahulu di sanalah berdiri "Istana Siluman Ular", pusat kekuasaan gaib yang rajanya adalah Nyi Ayi Arum Sari. Sang ratu ini kemudian bersanding dengan Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi. Dari pertemuan dua dunia itu lahirlah Dewi Kandita, putri yang dianugerahi wewenang untuk memerintah samudra. Beliau menjadi penguasa Jagat Kidul, Pantai Selatan.
Lokasi "Ti Kere" purba itu berada di wilayah Walungan Agung, sungai besar yang dulu disebut CIPUGAG. Orang tua dulu menyebutnya "Puser Bumi Sesungguhnya". Puser, titik pusat, tempat nyawa tanah Sunda berdenyut pertama kali.
Kini, jejak sejarah itu tidak hilang. Ia menyamar. Puser Bumi itu bertransformasi menjadi SUMUR ROAY yang terletak di Desa Karamat, Kecamatan Palasah, Kabupaten Majalengka. Sumur bukan sekadar sumur. Ia penanda. Ia pengingat.
Peradaban akan bangkit jika kita berani "pindah" dari cara berpikir "Saung Kere", cara lama yang sempit, kumuh, dan terjebak mitos, menuju "Bale", balai agung, cara berpikir bangsawan yang terang, tertata, dan beradab.
Pajajaran Anyar tidak dibangun dengan batu. Ia dibangun dengan kesadaran. Kesadaran bahwa Majalengka bukan pinggiran. Majalengka adalah pusat. Pusat sejarah, pusat spiritual, pusat harapan Sunda masa depan.
Selama "penghuni Saung Kere" belum mau hijrah ke "Bale", maka Pajajaran Anyar akan tetap jadi wacana. Tapi saat migrasi kesadaran itu terjadi, Sumur Roay akan kembali memancar. Dan Majalengka akan mengingatkan Nusantara: dari sinilah dulu Siliwangi bertahta.
Oleh : Ambu Ani
Tim Redaksi RNO.


